Pasien HIV Pendatang di Samarinda Sulit Dipantau, Dinkes Perkuat Koordinasi
- 07 Jul 2026 09:02 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Tingginya pergerakan pendatang di Kota Samarinda menjadi salah satu tantangan dalam penanganan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda menyebut, tidak sedikit pasien yang berpindah daerah sebelum menjalani pengobatan secara tuntas.
Staf Program HIV Dinkes Kota Samarinda, Siti Nurjannah, mengatakan Samarinda merupakan kota tujuan bekerja sehingga banyak pendatang datang dan pergi dalam waktu singkat. Kondisi tersebut membuat sebagian pasien sulit dipantau kelanjutan pengobatannya.
"Kebanyakan kasus HIV yang kami temukan lalu lost to follow up atau menghilang itu berasal dari pendatang. Misalnya wanitapekerja seksual (WPS) yang bulan ini bekerja di Samarinda, lalu bulan berikutnya pindah ke Balikpapan. Padahal mereka terdeteksinya di Samarinda," ujarnya, dikutip pada Selasa 7 Juli 2026.
Selain itu, Dinkes juga kerap menemukan pekerja dari luar daerah yang hanya singgah sementara di Samarinda. Saat menjalani pemeriksaan, mereka diketahui positif HIV dan mendapat penanganan awal. Namun, setelah kembali ke daerah asal, Dinkes tidak selalu mengetahui apakah pasien tersebut melanjutkan pengobatan atau tidak.
"Ada juga pekerja dari luar kota yang singgah di Samarinda. Saat sakit kami periksa, ternyata positif HIV. Setelah ditangani, mereka kembali ke daerah asalnya dan kami tidak tahu apakah mereka melanjutkan pengobatan di sana atau tidak," kata Jannah.
Untuk mengatasi hal tersebut, Dinkes pun berupaya memperkuat koordinasi dengan daerah lain. Setiap pasien yang diketahui akan pindah domisili akan dirujuk ke fasilitas kesehatan di daerah tujuan agar pengobatan tetap berlanjut.
Menurut Jannah, kesinambungan pengobatan sangat penting dalam penanganan HIV. Karena itu, Dinkes terus berupaya memastikan pasien tetap mendapatkan layanan meski berpindah daerah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....