Panduan Deteksi Dini Gangguan Bicara Anak sejak Usia Nol Tahun
- 27 Jun 2026 11:56 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Deteksi dini terhadap kemampuan bahasa dan bicara anak merupakan kewajiban yang harus dipahami oleh setiap orang tua sejak anak dilahirkan. Mengetahui batasan perkembangan anak di tiap fase usia krusial dinilai menjadi kunci utama untuk mencegah terjadinya gangguan kognitif yang permanen.
Fase perkembangan anak idealnya dimulai secara bertahap, mulai dari kematangan motorik kasar, motorik halus, kemampuan kognitif, hingga akhirnya kemampuan bicara dan interaksi sosial. Kegagalan stimulasi pada salah satu aspek dapat menghambat kemampuan komunikasi dua arah anak ke depan.
Terapis Wicara RSJD Atma Husada Mahakam Kaltim, Diva Ari Yasmin, menjelaskan bahwa tanda-tanda kecurigaan (red flags) sudah bisa diamati secara jelas oleh orang tua semenjak anak menginjak usia 12 bulan atau satu tahun.
"Biasanya tuh kita ngelihatnya tuh dari usia 12 bulan. Kalau saat di usia 12 bulan enggak ada babbling (celotehan) atau anak belum bisa merespon ketika dipanggil namanya itu orang tua udah harus segera aware," ujar Diva Ari Yasmin dalam dialog Dokter Etam pada Kamis, 18 Juni 2026.
Diva menguraikan indikator selanjutnya pada usia 16 bulan, di mana anak seharusnya sudah mampu memproduksi minimal satu kata yang bermakna secara konsisten. Jika hingga usia 24 bulan anak belum mampu merangkai dua kata secara spontan dan hanya membeo, intervensi medis wajib dilakukan.
"Di usia 24 bulan belum mampu merangkai frasa atau dua kata secara spontan. Jadi anak itu ketika usia 2 tahun lebih sering mengulang kata... dia tidak paham apa yang diperintahkan," katanya menambahkan rincian ciri gangguan.
Jika anak terindikasi mengalami gejala-gejala tersebut, Diva menyarankan orang tua untuk segera melakukan pemeriksaan medis secara menyeluruh, termasuk ke dokter spesialis THT untuk memastikan fungsi pendengaran, serta ke dokter spesialis anak atau psikiater konsultan anak di RSJD Atma Husada Mahakam.
"Deteksi dini bukan hanya sekedar observasi, melainkan langkah tanggap para orang tua untuk mencegah permasalahan kognitif dan sosial yang permanen nantinya. Hubungi profesional ahli seperti dokter tumbuh kembang, terapis wicara, dan terapis okupasi," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....