Belum Ada Kasus Hantavirus di Samarinda, Dinkes Minta Warga Waspada Tikus dan Curut
- 28 Mei 2026 11:43 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus hantavirus di Kota Tepian. Meski begitu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap penularan virus yang dapat menyebar melalui tikus dan curut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Samarinda, Nata Siswanto mengatakan, hantavirus sebenarnya bukan penyakit baru karena kasusnya sudah ditemukan di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir.
“Di Indonesia sendiri yang terkonfirmasi ada 20 kasus sejak 2024 dan tiga di antaranya meninggal dunia, tapi sampai saat ini di Kota Samarinda belum kami temukan satu kasus hantavirus yang ada,” ujarnya, dikutip pada Kamis, 28 Mei 2026.
Meski belum ditemukan di Samarinda, Dinkes tetap meningkatkan kewaspadaan dengan menindaklanjuti surat edaran dari Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Provinsi terkait antisipasi hantavirus. Pasalnya, hantavirus berasal dari gigitan, air liur, urine, maupun feses hewan pengerat yang banyak ditemui di lingkungan sekitar. “Intinya kita harus menjaga lingkungan supaya tidak menjadi sarang tikus dan curut karena itu penular utamanya,” kata dia.
Nata menjelaskan, hantavirus memiliki dua jenis utama, yakni yang menyerang saluran pernapasan dan yang menyerang ginjal serta pembuluh darah. Gejala awalnya pun disebut mirip dengan penyakit umum lainnya seperti demam, batuk, pilek, hingga sesak napas. Namun, pada kondisi berat, penyakit ini bisa berkembang menjadi fatal terutama pada pasien dengan penyakit penyerta.
“Kalau yang menyerang saluran pernapasan biasanya ada demam, sesak, batuk, pilek. Kalau yang menyerang ginjal dan pembuluh darah bisa menyebabkan tubuh lemas karena gangguan suplai oksigen,” ucapnya.

Selain menjaga kebersihan lingkungan, masyarakat juga diminta memperhatikan penyimpanan makanan di rumah agar tidak mudah terkontaminasi tikus. Nata mengimbau warga tidak membiarkan makanan terbuka atau berserakan, terutama di rumah yang masih banyak tikus berkeliaran.
“Kita bukan menunggu makanan itu terkontaminasi atau tidak, tapi bagaimana mencegah supaya makanan tidak terkontaminasi,” ujarnya.
Terkait pengobatan, Nata mengatakan hingga saat ini belum ada vaksin khusus untuk hantavirus. Penanganan medis umumnya dilakukan berdasarkan gejala yang dialami pasien sambil meningkatkan daya tahan tubuh.
Ia pun meminta masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gigitan tikus atau muncul gejala penyakit.
“Setiap ada keluhan atau gejala apapun segeralah berobat supaya cepat terdeteksi,” kata dia, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....