Bullying Jadi Pintu Remaja Terpapar Obat Terlarang

  • 19 Mei 2026 15:43 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalimantan Timur menyoroti fenomena bullying dan tekanan pergaulan yang disebut menjadi salah satu pintu masuk remaja terpapar penyalahgunaan Obat-Obat Tertentu atau OOT.

Direktur Reserse Narkoba Polda Kaltim Kombes Pol Romylus Tamtelahitu mengatakan, banyak remaja mulai mencoba obat-obatan tertentu bukan karena faktor kriminal murni, melainkan dorongan lingkungan sosial dan keinginan diterima dalam kelompok pertemanan.

“Kadang ada anak-anak yang dipaksa minum obat tertentu supaya dianggap berani atau diterima dalam kelompoknya. Ketika menolak, mereka malah dibully,” katanya dalam kegiatan Aksi Nasional Pencegahan Penyalahgunaan OOT dan Peran APBN dalam Pengawasan OOT di Aula Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Samarinda, Selasa 19 Mei 2026.

Menurut Romylus, kondisi tersebut menjadi ancaman serius karena banyak orang tua dan lingkungan sekolah belum menyadari penyalahgunaan obat tertentu kini berkembang sangat dekat dengan kehidupan remaja.

Ia menjelaskan, penyalahgunaan OOT tidak lagi identik dengan lingkungan kriminal tertutup. Saat ini, peredarannya justru lebih mudah menjangkau pelajar melalui lingkungan pertemanan hingga media sosial.

“Anak-anak sekarang gampang terpengaruh. Ketika lingkungannya salah, rasa penasaran itu muncul dan akhirnya mencoba,” ujarnya.

Romylus mengatakan, efek penyalahgunaan obat tertentu dapat memicu perubahan perilaku yang berbahaya, mulai dari hiperaktif, agresif, halusinasi hingga keberanian berlebihan yang berujung tawuran dan tindak kriminal.

Karena itu, ia menilai penanganan penyalahgunaan OOT tidak cukup hanya mengedepankan penegakan hukum, tetapi harus diperkuat melalui pendekatan sosial dan edukasi sejak dini.

Menurutnya, sekolah dan keluarga memiliki peran penting dalam mendeteksi perubahan perilaku anak, terutama ketika mulai menunjukkan tanda pergaulan negatif dan ketergantungan terhadap obat-obatan tertentu.

“Kalau hanya aparat yang bergerak tidak akan cukup. Orang tua, guru dan lingkungan sekitar harus ikut peduli,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Romylus juga mengungkapkan masih banyak masyarakat yang belum memahami kategori OOT dan bahayanya. Bahkan, edukasi mengenai penyalahgunaan obat tertentu disebut masih menjadi tantangan besar.

“Masyarakat banyak yang belum tahu. Bahkan anggota saya sendiri masih ada yang belum memahami OOT ini,” ucanya.

Polda Kaltim mendukung penguatan kolaborasi bersama BBPOM, sekolah, kampus, organisasi kepemudaan dan komunitas masyarakat untuk mempersempit ruang penyalahgunaan obat tertentu di kalangan generasi muda.

Kegiatan tersebut juga dihadiri aparat penegak hukum, tenaga kesehatan, akademisi, mahasiswa, pelajar hingga komunitas masyarakat sebagai bagian dari gerakan bersama pencegahan penyalahgunaan OOT di Kalimantan Timur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....