Gen Z Mudah Resign, Ini Penyebabnya!

  • 23 Apr 2026 08:35 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Fenomena resign di kalangan generasi muda kini semakin marak terjadi. Banyak karyawan, khususnya Gen Z, memilih meninggalkan pekerjaan mereka bukan karena alasan finansial semata, tetapi karena tekanan mental yang terus menumpuk. Kondisi ini sering kali dikaitkan dengan burnout yang tidak disadari sejak awal.

Menurut Anang Arief, seorang psikolog dari Ikatan Psikologi Klinis Kalimantan Timur, burnout bukanlah sekadar kelelahan biasa. Ia menjelaskan, “Burnout syndrome itu tidak hanya kelelahan fisik, tetapi juga mencakup kelelahan mental dan emosional. Ketiganya bisa terjadi bersamaan dan membuat seseorang merasa benar-benar terkuras.”

Berbeda dengan kelelahan biasa yang bisa pulih dengan istirahat atau olahraga, burnout membutuhkan penanganan lebih serius. “Kalau hanya lelah, cukup tidur atau olahraga biasanya sudah membaik. Tapi kalau burnout, perilaku seseorang bisa berubah, bahkan mulai menjauh dari lingkungan kerja hingga akhirnya memilih resign,” ungkapnya.

Gejala burnout sering kali tidak disadari. Seseorang mungkin mulai menghindari komunikasi, jarang terlihat di lingkungan sosial, hingga kehilangan motivasi dalam bekerja. “Kalau kamu mulai menghindari telepon, ditanya teman tapi tidak pernah muncul, atau sering menghilang, itu bisa jadi tanda awal burnout,” tambahnya.

Penanganan burnout juga tidak bisa hanya dengan hiburan semata. Banyak orang mengira bahwa bersenang-senang sudah cukup untuk menghilangkan stres. Padahal, kondisi ini membutuhkan pemulihan yang lebih menyeluruh. “Have fun mungkin membantu secara emosional, tapi secara fisik dan psikis belum tentu pulih. Kalau sudah merasa tidak membaik, sebaiknya langsung ke tenaga ahli,” jelasnya.

Menariknya, burnout tidak selalu dipengaruhi oleh lamanya waktu kerja. Lingkungan kerja yang sehat justru menjadi faktor utama dalam mencegah kondisi ini. Selain itu, perbedaan tujuan kerja antar generasi juga berperan. Generasi sebelumnya cenderung bekerja untuk bertahan hidup, sedangkan generasi sekarang sering kali mencari validasi diri.

“Paparan media sosial membuat ekspektasi kerja menjadi tidak realistis. Banyak yang ingin pekerjaan harus sesuai passion dan sempurna. Ketika tidak tercapai, mereka lebih mudah mengalami burnout dan akhirnya resign,” tutup Anang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....