Rekrutmen Kerja Kini Dibayangi Wajah Palsu AI
- 02 Okt 2026 07:04 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Perusahaan di berbagai negara kini berhadapan dengan pelamar kerja yang wajahnya hasil rekayasa kecerdasan buatan. Sebagian manajer perekrutan di Amerika Serikat mengaku pernah mewawancarai kandidat yang dicurigai bukan manusia asli.
Survei lembaga riset identitas Regula di lima negara mencatat lonjakan kasus penipuan semacam itu. Insiden penipuan berbasis audio dan video di lingkungan kerja melonjak menjadi 49 persen sepanjang tahun 2024. Angka itu naik jauh dari 37 persen kasus audio dan 29 persen kasus video pada 2022.
Chief Technology Officer Regula, Ihar Kliashchou, menilai lonjakan itu memaksa perusahaan mengubah cara memverifikasi orang. Menurut dia, cara lama sudah tidak memadai karena rekayasa wajah dan suara makin sulit dikenali. Ia menyarankan verifikasi biometrik serta pemeriksaan dokumen asli dalam setiap interaksi langsung dengan calon pekerja.
Riset lembaga analis Gartner memperkirakan satu dari empat profil pelamar di dunia palsu pada 2028. Laporan sektor perekrutan menyebut sekitar 17 persen manajer pernah menemui pelamar seperti itu, Jumat, 11 Juli 2025. Teknologi itu dipakai untuk mengubah penampilan, suara, dan gerak bibir seseorang saat wawancara daring.
Vijay Balasubramaniyan, CEO sebuah perusahaan teknologi autentikasi suara di Amerika Serikat, mengaku pernah menangkap kandidat semacam itu. Pembuatan video palsu untuk wawancara daring sekarang sangat sederhana dan cepat, ujarnya. Bermodal satu foto diam dan beberapa detik rekaman suara, penipu bisa tampil meyakinkan di kamera.
Sejumlah kasus menyeret jaringan pekerja teknologi informasi asing yang memakai identitas curian warga negara lain. Departemen Kehakiman Amerika Serikat menuduh lebih dari 300 perusahaan mempekerjakan orang tanpa sadar. Praktik itu dinilai menimbulkan risiko keamanan nasional sekaligus kerugian data bagi perusahaan korban.
Lembaga keamanan siber Amerika Serikat menyarankan verifikasi berlapis sejak tahap awal proses rekrutmen berjalan. Perusahaan diminta memberi pertanyaan lanjutan tak terduga agar penipu sulit menyiapkan jawaban yang mulus. Wawancara daring tidak lagi cukup menjadi bukti bahwa sosok di layar benar-benar ada.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....