Hilirisasi Minyak Atsiri Kaltim Mulai Diperkuat

  • 29 Sep 2026 12:06 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Potensi tanaman lokal Kalimantan Timur mulai diarahkan untuk memberi nilai tambah ekonomi. Universitas Mulawarman (UNMUL) mendorong minyak atsiri berbahan baku Litsea elliptica atau medang untuk keluar dari ruang riset dan masuk ke tahap produksi serta pasar.

Upaya tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) Penguatan Ekosistem Hilirisasi Minyak Atsiri Litsea elliptica–A-TREO, di Gedung Bundar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis UNMUL, Jumat 25 September 2026. Forum ini mempertemukan akademisi, pengelola bahan baku, pelaku UMKM, dunia usaha, industri, regulator, legislatif, hingga jejaring bisnis.

Tim peneliti UNMUL, Prof. Harlinda Kuspradini, mengatakan riset Litsea elliptica telah melalui sejumlah tahapan hingga menghasilkan teknologi penyulingan dan produk minyak atsiri. Tantangan berikutnya adalah memastikan inovasi tersebut mampu diterapkan secara lebih luas dan berkelanjutan.

“Tantangannya sekarang bukan lagi sekadar menghasilkan minyak atsiri pada skala penelitian, tetapi memastikan bahan baku tersedia, prosesnya dapat direplikasi, mutunya konsisten, memenuhi persyaratan produk, dan memiliki akses pasar,” ujarnya.

Melalui program Dorongan Teknologi dalam ekosistem Hiliriset, A-TREO atau A Tropical Rainforest Essential Oil diarahkan meningkatkan Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) dari level 6 menuju level 8. Penguatan mencakup teknologi produksi, standardisasi, validasi proses, rantai pasok, hingga kesiapan produk memasuki pasar.

Tim peneliti Universitas Mulawarman bersama peserta FGD Penguatan Ekosistem Hilirisasi Minyak Atsiri Litsea elliptica – A-TREO di Gedung Bundar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis UNMUL, Samarinda, Jumat (25/9/2026).(Foto : RRI/ Unmul)

Dosen Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis UNMUL, Kiswanto, menilai persoalan bahan baku menjadi salah satu kunci keberlanjutan industri minyak atsiri. Menurutnya, pasokan tidak cukup hanya tersedia untuk kebutuhan penelitian, tetapi harus mampu menopang produksi secara berkelanjutan.

“Ketersediaan bahan baku merupakan fondasi utama. Keberlanjutan pasokan perlu dibangun sejak awal melalui pengelolaan budidaya dan sistem penyediaan bahan baku yang mampu mendukung keperluan produksi secara berkelanjutan,” katanya.

Dari sisi bisnis, Hery Romadan dari CV Abihira menekankan pentingnya menerjemahkan hasil penelitian menjadi produk yang memiliki peluang pasar. Sementara anggota DPRD Kalimantan Timur, Sarkowi V. Zahry, mendorong agar pengembangan komoditas lokal selaras dengan potensi daerah dan mendapat dukungan kebijakan yang konkret.

Aspek keamanan dan mutu juga menjadi perhatian. Diah Agustiani Syarifah dari Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Samarinda mengingatkan pentingnya menentukan kategori produk sejak awal karena berkaitan dengan jalur regulasi dan persyaratan yang harus dipenuhi. Setelah pemaparan, peserta dibagi dalam tiga kelompok yang membahas bahan baku, usaha, dan pemasaran. Forum ini diharapkan memperkuat rantai hilirisasi A-TREO sehingga inovasi berbasis sumber daya lokal Kalimantan Timur tidak berhenti sebagai hasil penelitian, tetapi berkembang menjadi produk yang memenuhi standar, memiliki model bisnis, dan mampu menjangkau pasar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....