Mahasiswa Universitas Mulia Raih Juara DevFest
- 15 Sep 2026 11:57 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Balikpapan – Tiga mahasiswa Program Studi Informatika, Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM), Universitas Mulia berhasil meraih Juara 2 dalam ajang DevFest Infinite Vol. 5 melalui inovasi teknologi kesehatan berbasis kecerdasan buatan (AI). Prestasi tersebut diraih pada 8 September 2026.
Mengusung tema Health Tech, ketiganya mengembangkan FallCare Sentinel dan Sentinel Notification, sistem berbasis computer vision yang dirancang untuk mendeteksi insiden jatuh secara waktu nyata sekaligus mengirimkan notifikasi darurat kepada pihak yang dapat memberikan pertolongan.
Dikutip dari laman Universitas Mulia, Selasa 15 September 2026, tim tersebut terdiri atas Muhammad Zhein Fajar Satriatama, Rudolf Prasetia, dan Mirza Er-Rasyid Nurmawan. Ketiganya merupakan mahasiswa Informatika semester tiga yang membagi tugas sesuai kompetensi, mulai dari pengembangan aplikasi seluler, frontend, backend, integrasi AI, hingga desain UI/UX.
Ide tersebut berangkat dari persoalan keterlambatan respons ketika seseorang mengalami insiden jatuh, terutama lansia maupun pekerja yang berada di area rawan. Dalam kondisi tertentu, korban tidak mampu meminta bantuan secara mandiri sehingga keterlambatan informasi dapat meningkatkan risiko kondisi yang lebih serius.
Melalui FallCare Sentinel, tim berupaya menghadirkan solusi yang tidak hanya mendeteksi kejadian jatuh, tetapi juga meneruskan informasi tersebut melalui sistem notifikasi agar respons pertolongan dapat dilakukan lebih cepat.
Teknologi YOLOv8n dan computer vision digunakan untuk mendukung kemampuan deteksi secara waktu nyata. Pembina UKM Robotik Universitas Mulia, Muhammad Safi’i, menilai pemilihan teknologi tersebut sesuai dengan kebutuhan sistem.
“Pemilihan YOLOv8n sangat tepat karena ringan, efisien, dan responsif untuk pendeteksian real-time,” ujarnya.
Dalam proses pengembangan, tim menghadapi sejumlah kendala teknis. Salah satunya terjadi pada mekanisme notifikasi yang semula menggunakan Pushover. Sistem tersebut dinilai belum cukup cepat dan responsif untuk memenuhi kebutuhan aplikasi.
Alih-alih mempertahankan solusi awal, tim memutuskan mengembangkan aplikasi seluler sendiri untuk mengatasi persoalan tersebut. Keputusan ini sekaligus menjadi bagian dari proses pembelajaran dalam hackathon, ketika mahasiswa harus mampu mengambil keputusan teknis secara cepat di tengah keterbatasan waktu.
DevFest Infinite Vol. 5 memberikan waktu hanya 24 jam kepada peserta untuk mengembangkan solusi. Tantangannya bukan sekadar menyelesaikan kode, tetapi memastikan berbagai komponen yang dikerjakan secara paralel dapat terintegrasi menjadi satu sistem yang dapat diuji.
Sejak awal, tim membagi pekerjaan sesuai dengan peran masing-masing. Untuk menjaga sinkronisasi, mereka melakukan sync-up setiap beberapa jam guna memastikan seluruh bagian proyek tetap berjalan sesuai arah.
Tekanan semakin terasa ketika memasuki dini hari. Sekitar pukul 03.00 hingga 05.00, kondisi fisik mulai menurun, sementara integrasi backend dan antarmuka masih menghadapi sejumlah gangguan. Di sisi lain, batas waktu pengumpulan semakin dekat.
Menurut Safi’i, kondisi tersebut justru menjadi bagian penting dari pengalaman mahasiswa dalam mengikuti kompetisi.
“Karena hanya diberi waktu 24 jam, kemampuan mengambil keputusan cepat saat ada kendala coding atau bug menjadi sangat menentukan,” katanya.
Ia menyebut proyek hackathon memiliki karakter berbeda dibandingkan tugas perkuliahan. Jika tugas kuliah umumnya digunakan untuk menguji pemahaman terhadap materi, kompetisi menuntut mahasiswa membawa sebuah gagasan sejak tahap awal hingga menjadi aplikasi yang utuh dalam waktu singkat.
“Proyek lomba hackathon lebih rumit, dari awal ide sampai menjadi aplikasi yang utuh,” katanya.
Bagi FIKOM Universitas Mulia, keikutsertaan mahasiswa dalam kompetisi teknologi menjadi ruang untuk menguji kemampuan di luar pembelajaran reguler di kelas.
Safi’i menilai pengalaman mengikuti DevFest Infinite memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk merasakan pola kerja yang lebih mendekati tantangan industri, mulai dari tenggat waktu yang ketat hingga proses pitching dan penilaian produk secara langsung.
“Di kelas mereka belajar teorinya, tetapi di kompetisi mereka merasakan langsung standar dan ritme industri: deadline ketat, penyampaian ide (pitching), dan validasi produk secara objektif dari juri profesional,” ujarnya.
Selain kemampuan teknis, kompetisi juga mendorong peningkatan kemampuan bekerja dalam tim. Mahasiswa dituntut mampu membaca persoalan, mengevaluasi pilihan teknologi, serta menyesuaikan gagasan ketika menghadapi kondisi yang tidak sesuai dengan rencana awal.
“Dari awal gagasan sampai eksekusi, mereka makin tanggap membaca masalah nyata dan tidak kaku ketika harus menyesuaikan ide dengan kondisi lapangan,” kata Safi’i.
Pengalaman tersebut menjadi penting dalam pengembangan teknologi karena proses pengerjaan produk tidak selalu berjalan sesuai rancangan. Ketika sebuah solusi menghadapi kendala, pengembang harus mampu menentukan alternatif tanpa kehilangan tujuan utama produk.
Capaian Juara 2 pada DevFest Infinite Vol. 5 menunjukkan bagaimana mahasiswa dapat memanfaatkan kegiatan di luar perkuliahan untuk memperdalam keterampilan teknis dan nonteknis.
Para mahasiswa mengakui bahwa pembelajaran di FIKOM, terutama dasar logika pemrograman, pemecahan masalah, dan kebiasaan mengeksplorasi teknologi baru, turut membantu mereka menghadapi berbagai persoalan selama kompetisi.
Selain pemrograman, mereka juga mendapatkan pengalaman dalam mengelola waktu dan tekanan melalui pola pengembangan berbatas waktu (time-boxed development), menjaga koordinasi dalam kondisi lelah, hingga menyederhanakan solusi teknis agar dapat dipresentasikan dan dipahami oleh juri.
Safi’i menilai capaian tersebut menjadi indikator bahwa mahasiswa Universitas Mulia mampu bersaing dengan mahasiswa dari perguruan tinggi lainnya, terutama ketika memiliki kemauan untuk terus belajar di luar jam perkuliahan.
“Mahasiswa Universitas Mulia tidak kalah bersaing dengan kampus-kampus lain karena mereka ada kemauan untuk menambah waktu belajar di luar jam perkuliahan,” ujarnya.
Setelah kompetisi berakhir, pengembangan FallCare Sentinel tidak berhenti. Tim berencana menyempurnakan sejumlah fitur berdasarkan masukan dari para juri dan menyesuaikan sistem dengan kebutuhan pengguna.
Apabila memasuki tahap implementasi, perangkat dan teknologi yang digunakan juga akan disesuaikan dengan kondisi penggunaan sebenarnya agar sistem dapat bekerja secara optimal di lapangan.
Dengan demikian, prestasi pada DevFest Infinite Vol. 5 bukan menjadi akhir pengembangan FallCare Sentinel. Kompetisi tersebut justru menjadi tahap awal untuk menguji sejauh mana gagasan teknologi dapat diterjemahkan menjadi solusi yang lebih matang, relevan, dan berpotensi dikembangkan untuk kebutuhan nyata masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....