AI Makin Canggih, Konsumsi Air Data Center Jadi Tantangan Baru
- 14 Sep 2026 16:30 WIB
- Samarinda
Poin Utama
- #AI #ArtificialIntelligence #KecerdasanBuatan #DataCenter
RRI.CO.ID Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak hanya meningkatkan keperluan terhadap listrik, tetapi juga menghadirkan tantangan baru dalam penggunaan air. Pusat data (data center) yang menjadi infrastruktur utama pengembangan dan pengoperasian AI membutuhkan sistem pendinginan untuk menjaga perangkat komputasi tetap bekerja pada suhu optimal.
Data center menampung berbagai perangkat seperti server, penyimpanan data, jaringan, serta akselerator komputasi seperti Graphics Processing Unit (GPU). Perangkat tersebut menghasilkan panas ketika menjalankan beban komputasi tinggi, terutama saat melatih maupun mengoperasikan model AI. International Energy Agency (IEA) mencatat konsumsi listrik data center global mencapai sekitar 415 terawatt-jam (TWh) pada 2024, atau sekitar 1,5 persen konsumsi listrik dunia. Angka ini diperkirakan meningkat menjadi sekitar 945 TWh pada 2030.
Peningkatan keperluan komputasi tersebut membuat pengelolaan panas menjadi semakin penting. Salah satu metode pendinginan yang digunakan data center adalah sistem berbasis air, termasuk teknologi evaporative cooling yang memanfaatkan proses penguapan untuk membuang panas. Dalam sistem tertentu, air yang telah menyerap panas dapat menguap sehingga membutuhkan pasokan air baru untuk menjaga sistem tetap beroperasi.
Namun, besarnya konsumsi air tidak sama pada setiap data center. Faktor seperti desain sistem pendinginan, efisiensi server, tingkat pemanfaatan perangkat, kondisi iklim dan lokasi fasilitas dapat memengaruhi jumlah air yang digunakan. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Resources, Conservation & Recycling pada 2025 bahkan menemukan perbedaan penggunaan air antarbeban kerja data center dapat mencapai lebih dari 10.000 kali lipat.
Persoalan tersebut menjadi semakin relevan seiring meningkatnya penggunaan AI. IEA dalam laporan Key Questions on Energy and AI yang diterbitkan pada April 2026 mencatat konsumsi listrik data center secara global meningkat 17 persen sepanjang 2025. Sementara itu, data center yang berfokus pada AI mengalami pertumbuhan konsumsi listrik lebih cepat, yakni sekitar 50 persen dalam periode yang sama. Pertumbuhan tersebut turut meningkatkan kebutuhan terhadap teknologi pendinginan yang mampu menangani kepadatan komputasi yang semakin tinggi.
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap air, industri teknologi mulai mengembangkan sistem pendinginan yang lebih efisien, salah satunya direct-to-chip liquid cooling. Teknologi ini mengalirkan cairan pendingin langsung ke komponen yang menghasilkan panas, seperti GPU, sehingga proses pelepasan panas dapat dilakukan lebih efektif. Sistem closed-loop juga memungkinkan cairan pendingin disirkulasikan kembali sehingga kebutuhan air tambahan dapat ditekan.
Selain teknologi pendinginan, lokasi pembangunan data center juga menjadi faktor penting. Studi ilmiah menunjukkan bahwa kondisi iklim, sumber air, jenis sistem pendinginan dan sumber listrik dapat memengaruhi jejak air sebuah data center. Karena itu, pembangunan infrastruktur AI perlu mempertimbangkan kondisi sumber daya air di wilayah setempat, terutama di daerah yang mengalami tekanan terhadap ketersediaan air.
Sejumlah perusahaan teknologi juga mulai mengembangkan desain data center yang tidak menggunakan air untuk proses pendinginan. Microsoft, misalnya, memperkenalkan desain data center generasi baru yang menggunakan sistem pendinginan berbasis chip-level cooling dengan sirkulasi tertutup. Pendekatan tersebut ditujukan untuk menghilangkan kebutuhan air baru dalam proses pendinginan sekaligus menjaga efisiensi penggunaan energi dan kemampuan data center menangani beban kerja AI.
Perkembangan AI pada akhirnya tidak hanya membutuhkan inovasi pada perangkat keras dan perangkat lunak, tetapi juga pada infrastruktur pendukungnya. Efisiensi energi, penggunaan air, teknologi pendinginan, serta pemilihan lokasi menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem AI yang berkelanjutan. Dengan inovasi tersebut, perkembangan teknologi AI diharapkan tetap dapat memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa meningkatkan tekanan terhadap sumber daya alam secara berlebihan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....