Karsa Ajak Pelajar Bedakan Candaan dan Perundungan
- 25 Agt 2026 14:34 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Candaan di kalangan pelajar terkadang sulit dibedakan dari perundungan. Kalimat yang dianggap lucu oleh seseorang, belum tentu diterima dengan cara yang sama oleh orang lain. Persoalan inilah yang diangkat melalui Kartu Respon Sadar Anti Perundungan atau Karsa.
Karsa mengajak peserta didik melihat kembali penggunaan bahasa dalam percakapan sehari-hari. Melalui permainan, pelajar dihadapkan pada berbagai skenario untuk menentukan apakah sebuah kalimat termasuk candaan, berpotensi menyakiti atau sudah masuk dalam kategori perundungan.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena salah satu latar belakang lahirnya Karsa adalah masih adanya kecenderungan menormalisasi candaan yang sebenarnya mengarah pada perundungan. Salah satu bentuk yang disoroti adalah hinaan terhadap kondisi fisik atau body shaming.
Duta Bahasa Kaltim-Kaltara 2026, Muhammad Aji Drajad, mengatakan pendekatan tersebut menjadi salah satu pembeda Karsa. Media pembelajaran perundungan selama ini banyak menggunakan pendekatan emosional atau psikologis, sedangkan Karsa menghadirkan perspektif melalui analisis bahasa.
“Karsa ini menjadi perspektif baru terkait media ajar perundungan, yaitu dengan melakukan pendekatan dari analisis forensik kebahasaan,” ujar Aji kepada RRI Pro4 Samarinda.
Dalam permainan, peserta juga diajak melihat dampak sebuah tuturan dari sudut pandang orang yang menjadi sasaran. Dengan demikian, pelajar tidak berhenti pada penilaian benar atau salah, tetapi belajar memahami alasan sebuah ucapan dapat dianggap menyakitkan.
Proses tersebut kemudian dilanjutkan melalui kartu tantangan. Peserta diminta mengubah kalimat yang berpotensi menyakiti menjadi bentuk kritik atau penyampaian pendapat yang lebih membangun. Mekanisme ini membuat peserta berlatih memilih kata sekaligus mempertimbangkan dampak dari bahasa yang digunakan.
Bagi tim pengembang, cara tersebut diharapkan dapat membuat pembahasan mengenai perundungan terasa lebih dekat dengan kehidupan peserta didik. Efektivitas kegiatan kemudian dipantau melalui pretest, post-test, dan lembar observasi. Fasilitator mengamati tingkat keaktifan peserta, termasuk antusiasme dan kemampuan mereka memberikan argumentasi selama permainan berlangsung.
Dengan pendekatan tersebut, Karsa tidak sekadar mengajarkan pelajar untuk mengenali perundungan. Permainan ini mendorong mereka untuk berpikir sebelum berbicara, memahami dampak sebuah tuturan dan menemukan cara berkomunikasi yang lebih santun.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....