Nezar Patria: Agentic AI Jadi Tantangan Baru, Humas Harus Tingkatkan Kompetensi
- 14 Jul 2026 12:16 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi), Nezar Patria, menyoroti pesatnya perkembangan agentic artificial intelligence (AI) yang mulai mampu menjalankan berbagai fungsi kehumasan. Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan bagi insan humas untuk terus meningkatkan kompetensi agar tetap relevan di era otomatisasi.
Menurut Nezar, teknologi agentic AI kini tidak hanya mampu membaca dan menganalisis data, tetapi juga menyusun strategi komunikasi hingga membangun narasi secara otomatis selama 24 jam. Karena itu, praktisi humas dituntut memiliki kemampuan yang tidak mudah digantikan oleh teknologi.
Dikutip dari laman Kementerian Komunikasi dan Digital, Selasa 14 Juli 2026, pernyataan tersebut disampaikan Nezar dalam Kick Off Konvensi Humas Indonesia 2026 di Antara Heritage, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Sabtu 11 Juli 2026.
Ia menegaskan, penguasaan teknologi AI harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, memverifikasi informasi, memahami konteks sosial, serta menjaga etika komunikasi.
"Verifikasi informasi, memahami konteks sosial, serta menjaga etika komunikasi menjadi kompetensi yang harus terus diperkuat oleh insan humas," ujar Nezar.
Nezar menjelaskan bahwa hingga kini berbagai negara masih mencari formulasi terbaik dalam mengatur perkembangan teknologi AI. Menurutnya, terdapat dua pendekatan utama yang berkembang, yakni regulasi yang adaptif terhadap perubahan teknologi dan pengaturan yang berlandaskan prinsip transparansi, akuntabilitas, keamanan, serta nondiskriminasi.
"Perkembangan AI berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan proses penyusunan regulasi. Karena itu, tata kelola AI membutuhkan keseimbangan antara regulasi yang adaptif dengan prinsip-prinsip etika yang kuat agar inovasi tetap berkembang tanpa mengorbankan kepentingan publik," katanya.
Selain aspek regulasi, Nezar menilai perkembangan AI juga tidak dapat dipisahkan dari dinamika geopolitik global. Persaingan penguasaan teknologi, termasuk AI dan komputasi kuantum, telah menjadikan teknologi sebagai instrumen strategis dalam kebijakan nasional berbagai negara.
Menurutnya, Indonesia perlu memperkuat kualitas komunikasi publik sekaligus membangun narasi yang konstruktif agar mampu bersaing di tengah perubahan global yang berlangsung sangat cepat.
"Saya berharap Konvensi Humas Indonesia menjadi ruang untuk menjawab tantangan AI, memperkuat tata kelola teknologi dalam profesi humas, mengembangkan strategi Generative Engine Optimization (GEO), serta membangun narasi yang konstruktif agar Indonesia terus berbicara baik kepada dunia," ujar Nezar.
Ia berharap, insan humas mampu memanfaatkan perkembangan AI sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas komunikasi publik tanpa mengesampingkan nilai-nilai etika, integritas, dan kepentingan masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....