Alat Peringatan Bencana Kini Bisa Hidup tanpa Baterai dengan 'Energy Harvesting'
- 26 Mei 2026 11:54 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, SAMARINDA — Indonesia berada di wilayah cincin api pasifik (ring of fire), sebuah takdir geografis yang menuntut bangsa ini untuk selalu siap siaga menghadapi bencana alam. Mulai dari gempa bumi, tsunami, hingga cuaca ekstrem akibat perubahan iklim. Pemerintah telah memasang alat sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) di berbagai wilayah.
Namun, sebuah persoalan dapat muncul di lapangan: alat-alat mitigasi bencana tersebut bisa mati atau tidak berfungsi justru di saat-saat paling krusial.

(Foto: Ilustrasi AI)
Tantangan Klasik: Masalah Baterai dan Listrik
Bukan rahasia lagi jika keandalan sensor gempa, pengukur curah hujan otomatis, hingga sirine tsunami sangat bergantung pada pasokan daya listrik. Umumnya, perangkat ini mengandalkan kombinasi panel surya konvensional dan baterai raksasa sebagai cadangan energi.
Di sinilah titik lemahnya muncul. Di daerah pelosok atau kawasan hutan tropis yang sering tertutup awan tebal, panel surya gagal mengisi daya secara optimal. Belum lagi masalah sosial seperti aksi vandalisme, di mana baterai-baterai mahal tersebut rawan dicuri oleh oknum tidak bertanggung jawab. Akibatnya, stasiun pemantau menjadi lumpuh, meninggalkan masyarakat sekitar dalam risiko tanpa deteksi dini.
Sudah saatnya infrastruktur kebencanaan nasional melirik lompatan teknologi baru: Sirkuit Elektronika Pemanen Energi Mandiri (Energy Harvesting Electronics).
Memanen Energi dari Getaran Bumi dan Sinyal Udara
Berbeda dengan panel surya yang perlu matahari atau baterai yang harus diganti secara berkala, teknologi energy harvesting bekerja dengan prinsip menangkap energi mikro yang sudah ada di lingkungan sekitar lalu mengubahnya menjadi arus listrik kecil untuk menghidupkan sensor.
Dalam konteks kebencanaan, ada dua sumber energi luar yang sangat potensial untuk dipanen:
1. Energi Mekanis (Piezoelektrik): Sensor gempa masa depan bisa dirancang menggunakan komponen piezoelektrik yang mampu menghasilkan listrik dari getaran. Artinya, gerakan mikro bumi atau getaran dari kendaraan yang melintas di sekitar area pemantauan justru dimanfaatkan untuk mengisi daya sensor itu sendiri. Semakin aktif bumi bergerak, semakin mandiri energi alat tersebut.
2. Pemanen Sinyal Radio (RF Harvesting): Di era digital, udara kita dipenuhi oleh gelombang elektromagnetik dari sinyal televisi, radio, hingga jaringan seluler. Komponen rectenna (antena khusus penangkap sinyal) pada perangkat energy harvesting mampu menyerap gelombang "menganggur" ini dan mengubahnya menjadi setrum untuk menghidupkan cip sensor tanpa perlu colokan listrik sama sekali.
Baca Juga: [Mengenal Gelombang P, Kunci Penyelamat Jepang dari Bencana Gempa]

(Foto: Ilustrasi AI)
Mendorong Kemandirian Teknologi Nasional
Penerapan teknologi elektronika daya rendah ini sejalan dengan arah riset kebencanaan jangka panjang yang diprioritaskan oleh pemerintah. Fokusnya jelas: menciptakan alat mitigasi yang tangguh, minim perawatan (low maintenance), dan antipencurian karena tidak lagi menggunakan komponen baterai konvensional yang bernilai jual tinggi.
Standardisasi perangkat berbasis Internet of Things (IoT) ramah lingkungan ini juga didukung oleh regulasi domestik yang membuka jalan bagi para inovator lokal dan mahasiswa teknik di berbagai daerah untuk ikut mengembangkan sensor kebencanaan mandiri energi yang aman dan terstandardisasi.
Menuju Mitigasi 24 Jam Tanpa Henti
Bencana tidak pernah mengetuk pintu sebelum bertamu, dan ia tidak akan menunggu manusia selesai mengganti baterai alat deteksi yang soak.
Peralihan dari sistem daya konvensional ke sistem pemanen energi mandiri bukan lagi sekadar pilihan inovasi di atas kertas lab, melainkan kebutuhan mendesak untuk keselamatan publik. Dengan sensor yang mampu menghidupkan dirinya sendiri, masyarakat Indonesia bisa tidur lebih nyenyak, tahu bahwa sistem pertahanan mereka terjaga penuh selama 24 jam tanpa takut kehabisan daya.
Sumber Website untuk Kutipan Artikel (Referensi Redaksi):
1. Prioritas Riset Kebencanaan Nasional:Sumber: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
URL: brin.go.id atau ristekbrin.go.id (RENCANA-INDUK-RISET-NASIONAL-TAHUN-2017-2045-Edisi-28-Pebruari-2017)
Konteks: Merujuk pada dokumen Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) mengenai fokus kemandirian teknologi kebencanaan dan pemanfaatan material maju (seperti teknologi piezoelektrik untuk sensor mandiri daya).
2. Standardisasi Perangkat Sensor IoT Domestik:Sumber: Badan Standardisasi Nasional (BSN)
URL: bsn.go.id
Konteks: Dokumen regulasi SNI ISO/IEC 30141:2021 (Internet of Things - Arsitektur Referensi) yang mengatur standar integrasi sistem sensor pintar di Indonesia agar aman dan sinkron secara nasional.
3. Tren Global Penggunaan Perangkat Energy Harvesting:Sumber: Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) Spectrum / ScienceDaily
URL: spectrum.ieee.org atau sciencedaily.com
Konteks: Basis data ilmiah mengenai perkembangan efisiensi komponen mikroelektronika RF Harvesting dan sirkuit daya rendah (low-power electronics) di tingkat global.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....