Forum Rektor Indonesia-Thailand Bahas Kerja Sama di IKN

  • 25 Agt 2025 22:10 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Nusantara: Kolaborasi pendidikan tinggi antara Thailand dan Indonesia kembali diperkuat melalui pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di Ibu Kota Nusantara (IKN) pada 25–26 Agustus 2025. Acara ini merupakan High Level Meeting ke-16 antara Council of University Presidents of Thailand (CUPT) dan Council of Rectors Indonesian State Universities (CRISU).

Pertemuan tersebut melibatkan 11 universitas asal Thailand dan 55 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Indonesia, dengan total hampir 232 peserta, termasuk 35 rektor dari kedua negara.

Kepala Otorita IKN (OIKN), Basuki Hadimuljono, menyambut hangat delegasi CUPT–CRISU, sekaligus menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan Ibu Kota Nusantara sebagai kota berkelanjutan dan berdaya saing global.

BACA JUGA:

Wapres Gibran Tegaskan Pembangunan IKN Tetap Berlanjut

Ketua CUPT sekaligus Presiden Universitas Chulalongkorn, Prof. Dr. Wilert Puriwat, menyebut pertemuan ini sebagai agenda kolaborasi terbesar sepanjang tahun antara universitas Thailand dan Indonesia. Menurutnya, kerja sama perguruan tinggi tidak hanya terbatas pada pendidikan formal, tetapi juga mencakup kontribusi pada masyarakat, negara, hingga dunia.

“Kolaborasi ini melahirkan riset bersama yang menyentuh tiga isu penting, yaitu ketahanan pangan, pembangunan berkelanjutan, dan inovasi industri. Tiga topik ini bukan hanya relevan bagi Thailand dan Indonesia, tetapi juga menjadi agenda global. Kami sangat terkesan dengan pembangunan IKN yang dapat menjadi model kota masa depan,” ujar Prof. Wilert di sela-sela pertemuan di kantor Kemenko 1 KIPP IKN, Senin (25/8/2025).

BACA JUGA:

Deretan Masalah Pendidikan Indonesia di Mata Putri Kampus

Dari pihak Indonesia, sejumlah rektor juga menekankan nilai strategis forum ini. Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Prof. Agus Rubiyanto, mengatakan pertemuan CUPT–CRISU menjadi momentum saling belajar, terutama pengalaman Thailand dalam menjaga ketahanan pangan. Sedangkan Indonesia akan berbagai pengalaman pembangunan IKN.

“Jadi kita memberikan pengalaman bagaimana membangun IKN. Thailand memberikan contoh bagaimana sih ketahanan pangan itu dan bagaimana dengan produk-produk pangan yang berkualitas dan efektif,” ujarnya.

Menurutnya, kolaborasi yang melibatkan mahasiswa dapat menjadi bekal lahirnya diplomat-diplomat masa depan kedua negara.

“Jadi kerjasamanya itu kita tanamkan kepada adik-adik mahasiswa sehingga nantinya kalau misalkan dia akan berkembang suatu saat, kan mereka jadi diplomat-diplomat dan kita bisa bekerja sama untuk pembangunan yang akan datang,” ucapnya.

BACA JUGA:

Putri Kampus Indonesia Cetak Generasi Muda Inspiratif Berkarakter

Sementara itu, Rektor Universitas Borneo Tarakan (UBT), Prof. Yahya Ahmad Zein, menyoroti peran perguruan tinggi di wilayah perbatasan dalam memperkuat potensi lokal Kalimantan Utara. Ia menyebut bidang pangan strategis dan sertifikasi halal bisa menjadi pintu masuk untuk mempererat hubungan akademik maupun ekonomi dengan negara-negara tetangga.

“Wilayah Kalimantan Utara itu beranda depan NKRI, sehingga kita juga melakukan penguatan-penguatan,” katanya.

Senada, Rektor Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Prof. Abdunnur. Ia menegaskan pentingnya forum ini sebagai ajang berbagi praktik terbaik dalam pendidikan tinggi, riset, dan inovasi. Ia menekankan kolaborasi University-to-University (U-to-U), seperti pertukaran dosen, mahasiswa, serta publikasi bersama, akan memperkuat reputasi perguruan tinggi Indonesia–Thailand di tingkat regional maupun global.

“Kolaborasi riset dan pertukaran akademik seperti ini akan menjadi tolok ukur, tidak hanya di Asia Tenggara, tetapi juga di level internasional,” kata Prof. Abdunnur.

Forum CUPT–CRISU yang telah berjalan selama 16 edisi ini dipandang sebagai tonggak penting dalam mencetak pemimpin global masa depan melalui sinergi pendidikan tinggi lintas negara. Ke depan, forum ini juga ditargetkan akan berkembang menjadi jejaring internasional yang melibatkan lebih banyak negara, sekaligus memperkuat kolaborasi riset dan inovasi di kawasan Asia Tenggara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....