Deretan Masalah Pendidikan Indonesia di Mata Putri Kampus
- 23 Agt 2025 17:55 WIB
- Samarinda
KBRN, Nusantara: Persoalan dunia pendidikan di tanah air menjadi sorotan para finalis Putri Kampus Indonesia 2025. Dari panggung Ibu Kota Nusantara (IKN), mereka angkat suara tentang kesenjangan, keterbatasan akses, hingga mahalnya biaya pendidikan yang masih menjadi tantangan besar. Tak hanya mengkritisi, para finalis juga menawarkan gagasan dan advokasi sederhana demi masa depan generasi muda Indonesia.
Minimnya Ruang Aman di Sekolah
Fadya Rhaida dari Universitas Jenderal Sudirman menyebut ada tiga dosa besar pendidikan. Yaitu intoleransi, perundungan, dan kekerasan seksual. “Minimnya ruang aman dalam dunia pendidikan menjadi urgensi masa kini. Dengan kekuatan generasi muda, kita bisa menggaungkan kesetaraan dan menjadi agen perubahan menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Fadya dalam sesi pemaparan singkat pada malam grand fina pemilihan Putri Kampus Indonesia 2025, di IKN, Jumat (22/8/2025) malam.
BACA JUGA:
Putri Kampus Indonesia Cetak Generasi Muda Inspiratif Berkarakter
Sementara itu Amelia Enjelita Sitorus dari President University menekankan bahwa pendidikan adalah kunci untuk menemukan jati diri. Namun, banyak anak belum memperoleh hak pendidikan yang layak.
“Bahkan dengan privilese, sebagian masih belum tahu tujuan hidupnya karena kurang percaya diri. Saya pun pernah merasakannya. Karena itu saya berdiri untuk menyuarakan advokasi ini,” katanya.

Finalis Putri Kampus Indonesia, Putri Bumi, Putri Wiata Indonesia dan Putra-putri Wisata Nusantara 2025, foto bersama depan istana negara IKN. Foto: Eljhon Media/RRI IKN.
215 Juta Anak Dunia Belum Sekolah dan Akses Terbatas di Pelosok
Monica Tri Jayanti dari Binus University mengutip data UNESCO bahwa lebih dari 215 juta anak di dunia belum mendapat akses pendidikan. “Pendidikan bukan sekadar belajar, tapi membuka pintu menuju kesempatan, mimpi, dan masa depan. Sebagai Putri Kampus Indonesia 2025, saya berdiri menjadi simbol harapan itu,” ucapnya.
BACA JUGA:
Shafira Mutiari Juara Putri Kampus Indonesia 2025 di IKN
Sedangkan Regina Ica dari London School of Public Relation menyoroti keterbatasan akses di daerah terpencil. “Bukan karena mereka tidak mau belajar, tapi karena akses sangat terbatas. Pendidikan adalah mimpi sederhana yang bisa menjadi gerbang masa depan. Dari kegelapan, kita bisa menemukan bintang,” ucapnya puitis.
Senada diungkapkan, Felicia Jaydin Tampubolon dari Universitas Diponegoro, yang menegaskan bahwa masih banyak anak Indonesia yang tidak bersekolah.
“Melalui advokasi Jembatan Pendidikan, saya percaya generasi muda bisa menjadi jembatan nyata, dari kampus ke masyarakat, dari Putri Kampus Indonesia menuju Indonesia Emas 2045,” katanya menegaskan.
Peran Lintas Sektor Putri Kampus
Chindy Marisca Pangi dari ITKES Wiyata Husada Samarinda menilai Putri Kampus tak hanya berperan di dunia pendidikan, tetapi juga pariwisata, seni, budaya, dan kesehatan. Ia mengaku siap menjadi role model dan komunitas positif yang memberi aksi nyata sesuai kapasitas.
BACA JUGA:
Cindy Marisca Harumkan Kubar di Puteri Kampus Indonesia
Hambatan Finansial Jadi Tantangan
Diva Mahastra dari Universitas Indonesia mengungkap fakta bahwa 31 persen Gen Z tidak bisa melanjutkan kuliah karena masalah biaya. Karena itu selama 6 tahun terakhir dia terus melakukan advokasi untuk membantu para siswa mengenyam pendidikan yang layak.
“Advokasi saya, Little High Hopes Indonesia, sudah berjalan enam tahun. Ini bukti bahwa generasi muda bisa membantu menghentikan mimpi-mimpi yang tertahan akibat hambatan finansial,” ujar Diva.
Sementara Shafira Bellandi dari Binus University menekankan pendidikan adalah hak semua anak Indonesia. “Saya berjuang untuk kesetaraan pendidikan. Perubahan harus dimulai dari diri sendiri, lalu memberi dampak bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa,” katanya.
BACA JUGA:
Perjalanan Sasha dari Riau Menjadi Putri Kampus Indonesia 2025
Pernyataan itu juga diamini Yemima Baby Ruth, dari Universitas Prof Dr. Moestopo. Ia menegaskan masih banyak anak Nusantara belum mendapat pendidikan layak. “Sebagai calon dokter gigi dan guru musik, saya akan mengabdi untuk meningkatkan kualitas dan pemerataan pendidikan,” ujarnya.
Sementara itu, juara utama Putri Kampus Indonesia 2025, Shafira Mutiari Rafi dari Universitas Prima Indonesia PSDKU, mengutip Bung Hatta. “Pemuda adalah harapan bangsa. Harapan lahir dari pendidikan yang mencerdaskan pikiran dan menguatkan karakter. Melalui advokasi #SasMED, saya percaya bangsa yang cerdas lahir dari masyarakat yang sehat,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....