China Perluas Robot, Pekerja Hadapi Era Baru
- 21 Sep 2026 14:44 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - China memperluas penggunaan robot industri di tengah perubahan demografi dan kebutuhan meningkatkan produktivitas. Perkembangan ini mengubah cara manusia dan mesin bekerja di sektor manufaktur.
International Federation of Robotics atau IFR mencatat stok operasional robot industri China telah melampaui dua juta unit pada 2024. Angka tersebut menjadi yang terbesar di dunia, sementara China memasang sekitar 295 ribu robot industri sepanjang tahun yang sama.
Menurut laporan BBC News Indonesia, robot kini bekerja berdampingan dengan manusia di berbagai fasilitas manufaktur China. Laporan tersebut menggambarkan perusahaan yang mulai mengembangkan robot untuk mengerjakan tugas berulang, sekaligus mempersiapkan tenaga kerja yang mampu mengoperasikan dan mengembangkan teknologi tersebut.
Perkembangan robot juga berlangsung ketika struktur penduduk China mengalami perubahan. Data National Bureau of Statistics of China menunjukkan penduduk berusia 60 tahun ke atas mencapai 321,22 juta orang atau 22,86 persen dari populasi berdasarkan survei penduduk 2025.
International Labour Organization atau ILO menilai penerapan kecerdasan buatan dan robotika membawa konsekuensi terhadap dunia kerja. Studi ILO menunjukkan dampaknya tidak seragam karena bergantung pada jenis pekerjaan, keterampilan, serta tugas yang dilakukan pekerja.
Dalam penelitian terhadap adopsi robot industri di China, ILO menemukan dampak yang berbeda berdasarkan tingkat keterampilan. Analisis tersebut menunjukkan pekerja berketerampilan rendah mengalami pengaruh lebih kuat dibandingkan pekerja berketerampilan tinggi dalam aspek yang diteliti.
ILO juga mencatat perusahaan China mulai menggunakan AI dalam berbagai proses bisnis. Dalam studi terhadap 21 perusahaan dan survei terhadap 1.591 profesional, perusahaan melaporkan peningkatan produktivitas pada sejumlah pekerjaan, tetapi kekhawatiran mengenai perpindahan pekerjaan dan kesenjangan keterampilan juga muncul.
Perubahan tersebut membuat kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting dari perkembangan robot di pabrik China. Kajian ILO mengenai dampak AI juga menunjukkan tugas yang bersifat berulang dan lebih mudah diotomatisasi berpotensi terdampak lebih awal, sedangkan pekerjaan yang membutuhkan pemecahan masalah, pengelolaan, dan perawatan cenderung lebih sulit digantikan dalam jangka pendek.
Bagi industri China, perluasan robot di pabrik China berlangsung bersamaan dengan kebutuhan meningkatkan produktivitas dan menghadapi perubahan struktur tenaga kerja. Bagi pekerja, perkembangan tersebut meningkatkan kebutuhan terhadap keterampilan teknologi, pelatihan ulang, dan kemampuan bekerja bersama sistem otomatis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....