Presiden Prabowo Tegaskan Swasembada Pangan Berkelanjutan Pada PENAS KTNA 2026

  • 27 Jun 2026 14:13 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat swasembada pangan nasional secara berkelanjutan di hadapan lebih dari 100 ribu petani, nelayan, penyuluh, serta pelaku usaha pertanian dalam puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo, Rabu, 24 Juni 2026 lalu. Agenda besar ini menjadi panggung konsolidasi sektor pangan nasional di tengah meningkatnya ancaman krisis pangan global.

Berdasarkan rilis BRMP Kaltim, dalam pidatonya, Presiden Prabowo menekankan bahwa pangan merupakan isu fundamental bagi setiap negara dan menjadi penentu stabilitas dunia. Ia menilai Indonesia kini berada pada posisi yang semakin kuat dalam menjaga ketahanan pangan, bahkan mulai berkontribusi bagi negara lain di tengah krisis global yang masih berlangsung.

Presiden Prabowo menyampaikan bahwa capaian sektor pertanian Indonesia saat ini menunjukkan tren positif yang signifikan. Hal tersebut ditandai dengan mulai terbukanya peluang ekspor sejumlah komoditas strategis, termasuk pupuk, beras, dan jagung ke berbagai negara yang membutuhkan pasokan pangan.

“Alhamdulillah sekarang kita sudah mulai ekspor, kita membantu negara-negara lain. Banyak negara meminta pupuk dari kita, meminta beras dari kita, meminta jagung dari kita,” kata Presiden Prabowo.

Menurut Presiden, kondisi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia berada pada jalur yang tepat menuju kemandirian pangan yang kuat dan berkelanjutan. Ia juga menilai bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari kerja bersama seluruh pemangku kepentingan di sektor pertanian nasional.

Prabowo turut mengungkapkan adanya komunikasi langsung dengan Perdana Menteri Australia yang menanyakan ketersediaan pupuk Indonesia di tengah kondisi surplus produksi. Hal tersebut dinilai sebagai salah satu indikator meningkatnya posisi strategis Indonesia di pasar global.

Meski demikian, Presiden mengingatkan bahwa capaian tersebut tidak boleh membuat pemerintah maupun pelaku sektor pertanian lengah. Ia menegaskan bahwa seluruh kebijakan pertanian harus tetap berorientasi pada peningkatan kesejahteraan petani sebagai produsen utama pangan nasional.

Selain itu, Presiden Prabowo juga menyoroti pentingnya pengembangan hilirisasi kelapa sawit melalui program B50 yang direncanakan meluncur pada Juli mendatang. Program ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam kesempatan yang sama melaporkan sejumlah capaian sektor pertanian di bawah pemerintahan Presiden Prabowo. Ia menyebutkan bahwa kesejahteraan petani meningkat signifikan dengan Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencapai 127, tertinggi dalam 34 tahun terakhir, serta pertumbuhan sektor pertanian sebesar 5,74 persen.

Dari sisi kelembagaan petani, Ketua KTNA Nasional Mohammad Yadi Sofyan Noor menyampaikan apresiasi atas berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani dan nelayan. Ia juga menegaskan bahwa PENAS menjadi ruang strategis kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

“Kami dari KTNA menyampaikan penghargaan kepada Bapak Presiden atas perhatian, kepedulian, dukungan, dan keberpihakan beliau kepada petani dan nelayan Indonesia,” ujar Yadi.

Sebagai penutup rangkaian acara, KTNA menganugerahkan Lencana Emas Adibakti Tani Nelayan Maha Utama kepada Presiden Prabowo Subianto. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas komitmen pemerintah dalam memajukan sektor pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani serta nelayan di seluruh Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....