Tangis Haru Jemaah Kloter BPN 4: Ingin Lebih Lama Beribadah di Tanah Suci
- 12 Jun 2026 21:22 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Kepulangan jemaah haji Kloter 4 Embarkasi Balikpapan (BPN) ke Samarinda, Jumat 12 Juni 2026, tidak hanya diwarnai kebahagiaan karena berhasil menunaikan ibadah haji. Bagi sebagian jemaah, perpisahan dengan Tanah Suci justru meninggalkan rasa haru yang mendalam.
Salah satunya dirasakan salah seorang jemaah Kloter 4 BPN, Zainal Abdi. Sesaat setelah tiba di tanah air dan bertemu kembali dengan keluarga yang menjemputnya, ia mengaku bersyukur telah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji. Namun di balik rasa syukur itu, tersimpan kekhawatiran yang justru muncul setelah pulang dari Makkah.
"Alhamdulillah sudah sampai dan sudah melaksanakan rangkaian ibadah haji. Cuma ada kekhawatiran juga menjaga istiqomah. Takut bagaimana moral kita, teladan kita, dan dampak kita kepada masyarakat setelah pulang ini," ujarnya.
Bagi Zainal, haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci. Melainkan momen di mana manusia diberi kesempatan untuk menebus dosa dan memperbaiki ibadahnya.
Karena itu selama berada di Makkah, ia berusaha memaksimalkan setiap kesempatan untuk beribadah, mulai dari salat berjamaah di Masjidil Haram hingga berbagai amalan lainnya.
"Kapan lagi kita bisa menebus, misalnya kita jarang salat di sini, di sana satu hari saja kita sudah bisa tebus berapa ribu rakaat yang kita tinggalkan di sini. Itu yang kita kejar," ucap Zainal.
Saat menceritakan pengalamannya meninggalkan Makkah, suaranya pun sempat bergetar. Bahkan beberapa kali ia menahan air mata karena merasa berat berpisah dengan tempat yang selama ini menjadi dambaan umat Islam dari seluruh dunia.
"Meninggalkan di sana sedih sekali," katanya sambil menangis. "Rasanya ingin lama-lama di sana. Tapi kita punya kewajiban juga di sini," ucapnya, melanjutkan.
Zainal mengungkapkan, dirinya hampir tidak memiliki keluhan selama menjalani rangkaian haji karena fokus utamanya adalah memanfaatkan setiap waktu untuk beribadah. Namun, ia mengakui cuaca panas menjadi tantangan yang dirasakan hampir seluruh jemaah.
Kondisi tersebut membuat banyak jemaah mengalami batuk dan kelelahan, terutama saat puncak ibadah haji di Armuzna atau Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Di samping itu, Zainal juga menyoroti padatnya fasilitas di Mina, seperti antrean toilet yang panjang serta kondisi tenda yang membuat jemaah harus beristirahat berdesakan.
"WC itu antre sekali. Tidur juga berdempet-dempetan, enggak ada jaraknya. Tapi di situlah seninya ibadah haji," kata dia.
Menurutnya, tantangan fisik tersebut justru menjadi bagian dari proses ibadah yang mengajarkan kesabaran dan keikhlasan. Karena itu, ia memilih untuk tidak terlalu mempersoalkan berbagai keterbatasan yang ditemui selama berada di Tanah Suci.
Kini setelah kembali ke Samarinda, Zainal berharap seluruh jemaah dapat mempertahankan nilai-nilai yang diperoleh selama berhaji. Ia menilai kemabruran haji tak hanya diukur dari selesainya rangkaian ibadah, tetapi juga dari perubahan sikap setelah kembali ke tengah masyarakat.
"Harapannya tentu hajinya mabrur dan diterima. Tantangannya adalah apakah kita bisa mempertahankan keistiqomahan itu, bisa bermanfaat bagi masyarakat, lingkungan, dan negara," ujarnya, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....