Kisah Jemaah Kloter 4 BPN Lewati Puncak Haji, Tanjakan Mina Jadi Tantangan Terberat

  • 30 Mei 2026 20:51 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Rangkaian puncak ibadah haji yang dijalani jemaah Kloter 4 Embarkasi Balikpapan (BPN) berlangsung relatif lancar. Mulai dari wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga lempar jamrah di Mina dapat dilalui dengan baik meski diwarnai sejumlah tantangan, mulai dari antrean bus, cuaca panas ekstrem, hingga medan berat menuju tenda di Mina.

Ketua Kloter 4 BPN, Mulyati, mengatakan kendala pertama muncul saat proses keberangkatan dari hotel menuju Arafah. Ia menjelaskan, saat itu satu hotel ditempati dua maktab sehingga keberangkatan bus harus dilakukan bergantian untuk menghindari penumpukan di area lobi dan depan hotel.

"Karena satu hotel ada dua maktab, jadi busnya harus antre bergantian. Tempat parkir di depan hotel juga terbatas. Akhirnya memang sedikit terlambat, tetapi alhamdulillah semuanya tetap berjalan lancar dan seluruh jemaah bisa tiba di Arafah dengan selamat," ujarnya, kepada rri.id.co, Sabtu, 30 Mei 2026.

Setibanya di Arafah, para jemaah langsung menempati tenda yang telah disiapkan. Menurut Mulyati, fasilitas yang diterima jemaah jauh lebih nyaman dibandingkan yang dibayangkan banyak orang.

Selain dilengkapi pendingin ruangan, setiap jemaah mendapatkan tempat tidur, makanan, hingga air minum yang tersedia dalam jumlah cukup. Bahkan selama berada di Arafah, jemaah juga menerima berbagai konsumsi tambahan dan suvenir dari pihak maktab.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan dasar jemaah relatif terpenuhi selama menjalani wukuf. Namun, suhu udara yang tinggi tetap menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi jemaah lanjut usia dan kelompok risiko tinggi.

"Kalau soal konsumsi dan fasilitas sebenarnya tidak ada masalah. Makanan berlimpah, air minum juga banyak. Tapi karena cuaca memang panas sekali, ada jemaah yang sempat lemas setelah terlalu lama berada di luar tenda, termasuk saat mengantre toilet," kata Mulyati.

Salah seorang jemaah bahkan sempat dirujuk ke rumah sakit setelah mengalami kelelahan akibat paparan panas. Kondisi tersebut diperberat karena jemaah yang bersangkutan memang termasuk kategori risiko tinggi.

Meski demikian, penanganan medis berjalan cepat sehingga jemaah dapat kembali stabil dan dapat bergabung lagi bersama rombongan saat berada di Mina.

Ketua Kloter 4 BPN, Mulyati. (Foto: RRI Samarinda/Aina Wardah)

Setelah wukuf selesai, lanjut Mulyati, perjalanan menuju Muzdalifah dan Mina juga berlangsung tanpa kendala berarti. Sebab, sebagian jemaah melaksanakan mabit dengan skema murur atau melintasi kawasan Muzdalifah menggunakan bus tanpa turun maupun bermalam sehinga mengurangi kepadatan di lokasi.

"Alhamdulillah di Muzdalifah tidak terlalu padat. Karena sebagian jemaah mengikuti murur, jadi kondisinya tidak sepadat biasanya. Kami juga bisa bergerak lebih cepat menuju Mina," ujarnya.

Tantangan terbesar justru dirasakan saat jemaah berada di Mina. Bukan karena proses lempar jamrah, melainkan lokasi tenda yang berada di area cukup tinggi dan harus ditempuh dengan medan menanjak setelah berjalan jauh dari Jamarat.

Mulyati menuturkan, banyak jemaah yang sudah kelelahan usai melempar jamrah dan harus kembali mengerahkan tenaga untuk mencapai tenda. Kondisi itu pun membuat beberapa jemaah sempat tumbang akibat kelelahan.

"Setelah jalan berkilo-kilometer dari Jamarat, ternyata masih harus menghadapi tanjakan yang cukup curam menuju tenda. Itu yang berat. Ada beberapa jemaah yang sampai ngos-ngosan, kelelahan, bahkan harus dibantu menggunakan kursi roda supaya bisa sampai ke tenda," kata dia.

Menurutnya, lokasi tenda yang berada di area tinggi menjadi catatan penting yang diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi penyelenggaraan haji di masa mendatang, khususnya bagi jemaah lansia dan risiko tinggi.

Meski menghadapi berbagai tantangan selama puncak haji, Mulyati bersyukur seluruh jemaah Kloter 4 BPN saat ini berada dalam kondisi baik. Tidak ada jemaah yang tertinggal maupun masih menjalani perawatan serius.

Saat ini, rombongan hanya tinggal menunggu jadwal pelaksanaan tawaf ifadah sebelum melanjutkan sejumlah agenda ibadah lain seperti umrah sunah dan tawaf sunah bagi jemaah yang ingin melaksanakannya. Selain itu, terdapat rencana kegiatan city tour yang masih menyesuaikan kondisi dan kesiapan jemaah.

Kloter 4 BPN pun dijadwalkan kembali ke Tanah Air pada 11 Juni dan diperkirakan tiba di Balikpapan pada 12 Juni pagi.

"Yang paling penting sekarang jemaah tetap menjaga kesehatan. Karena memang haji ini ibadah fisik, tenaganya terkuras sekali. Alhamdulillah jemaah kami cukup disiplin mengikuti arahan petugas kesehatan dan petugas kloter," ujar Mulyati.

Ia juga mengapresiasi kekompakan antarsesama jemaah selama menjalani seluruh rangkaian ibadah. Menurutnya, solidaritas tersebut sangat membantu, terutama bagi jemaah lansia dan risiko tinggi yang tidak didampingi anggota keluarga.

"Masih ada beberapa rangkaian ibadah yang harus dijalani. Karena itu kami terus mengingatkan agar jemaah saling membantu dan tetap kompak. Banyak jemaah lansia yang tidak memiliki pendamping keluarga, jadi dukungan dari sesama jemaah sangat penting. Alhamdulillah sampai hari ini semuanya bisa tertanggulangi dengan baik karena kebersamaan itu," kata Mulyati, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....