Menepis Ketakutan Pemula di Dunia Freediving

  • 14 Jun 2026 12:46 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID , Samarinda - Memulai sebuah hobi baru yang melibatkan aktivitas ekstrem bawah air sering kali memicu keraguan besar bagi para pemula. Terdapat dua hal yang kerap menjadi penghalang seseorang untuk terjun ke dunia freediving, yaitu rasa takut tenggelam karena tidak bisa berenang, serta kekhawatiran akan mahalnya biaya peralatan.

Menyikapi fenomena psikologis tersebut, tim kepelatihan Samarendah Freediver, Mohammad Rijal An Naiem, mencoba meluruskan persepsi keliru yang beredar. Menurutnya, ketakutan akan langsung tenggelam ke dasar air merupakan mitos yang tidak ditopang oleh fakta hukum fisika tubuh manusia yang sebenarnya.

Naiem menegaskan, tubuh manusia pada kondisi normal memiliki daya apung alami di dalam air. Kasus-kasus darurat yang terjadi di air umumnya bukan disebabkan oleh kegagalan tubuh untuk mengapung, melainkan dipicu oleh hilangnya kontrol diri akibat kepanikan yang melanda penyelam.

"Pada umumnya teman-teman itu ketika baru memulai pasti ada rasa ketakutan di diri mereka kan karena pada umumnya mereka pasti takut tenggelam. Nah, jadi di freediving ini, kita meyakinkan teman-teman bahwa untuk tenggelam itu sebenarnya tidak semudah itu," ujar Naiem, dikutip Minggu 14 Juni 2026.

Naiem juga menambahkan, kunci utama keselamatan di air adalah ketenangan pikiran untuk menghindari kepanikan.

"Jadi pada dasarnya manusia itu pasti mengapung di air. Jadi kalau misalkan ada yang kasus tenggelam itu karena kepanikan diri sendiri," katanya.

Di sisi lain, tantangan yang dihadapi oleh komunitas di daerah adalah ketersediaan logistik alat. Ahmad Fauzi dari Samarendah Freediver mengakui, aspek finansial atau anggaran belanja alat memang menjadi tantangan tersendiri, mengingat belum adanya ekosistem perdagangan lokal yang menyokong olahraga ini secara luring di Samarinda.

"Tantangan terbesarnya yang paling utama itu biasanya adalah budget ya. Karena untuk alat-alat freediving sendiri, sekarang cukup lumayan mahal ya karena semakin banyak demand yang datang, semakin banyak pula alat-alat yang tersedia itu lebih cepat habis," ujar Fauzi.

Namun, pihak komunitas menegaskan, mereka menyediakan alat inventaris yang dapat dipinjamkan agar masalah anggaran tidak mematikan minat para pemula.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....