Kisah Ibu dan Dua Anak Autis Melawan Stigma Sosial di Samarinda
- 28 Apr 2026 08:58 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Mendampingi anak dengan autisme bukanlah perjalanan yang mudah. Diperlukan kesabaran, kekuatan mental, serta dukungan lingkungan yang memadai. Dalam banyak kasus, tantangan terbesar justru tidak datang dari kondisi anak itu sendiri, melainkan dari cara pandang masyarakat yang masih belum sepenuhnya memahami autisme. Kisah seorang ibu dengan dua anak autis ini menjadi gambaran nyata tentang perjuangan tersebut.
Seorang ibu dengan dua anak autis berusia 9 dan 6 tahun, Novita Abu Kandariah, berbagi cerita kepada RRI. Novita mengatakan, tantangan paling berat yang dihadapi adalah lingkungan sosial. Ia menyoroti bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sering kali menjadi beban emosional tersendiri.
“Yang paling berat itu lingkungan, terutama pandangan awal mereka terhadap anak-anak kita,” ujar Novita, dikutip Selasa 28 April 2026.
Perasaan sedih tentu tidak bisa dihindari. Namun, ia memilih untuk tidak larut dalam emosi tersebut. Ia menyadari bahwa reaksi yang bijak jauh lebih penting untuk membangun pemahaman di masyarakat. “Sebagai seorang ibu, melihat anak dipandang rendah atau berbeda secara negatif adalah hal yang sangat menyakitkan,” katanya.
Alih-alih menepis atau menghindar, ia mengambil pendekatan edukatif. Novita mengungkapkan, dirinya selalu menjelaskan kepada orang lain bahwa anaknya tetap manusia yang memiliki hak yang sama. Ia menegaskan, perbedaan bukanlah alasan untuk merendahkan. Sikap terbuka ini menjadi kunci dalam mengurangi stigma di lingkungan sekitar.
Di lingkungan tempat tinggal, pendekatan komunikasi yang dilakukan secara langsung terbukti cukup efektif. Sejak awal ia tidak pernah menyembunyikan kondisi anaknya. Ia justru aktif memberikan pemahaman kepada tetangga agar mereka bisa mengerti jika sewaktu-waktu anaknya menunjukkan perilaku yang berbeda.
Hal serupa juga ia terapkan di lingkungan sekolah. Sejak awal pendaftaran, ia sudah menyampaikan kondisi anaknya kepada pihak sekolah. Novita berharap adanya kerja sama yang baik antara orang tua dan guru, sehingga anaknya tidak mendapatkan perlakuan diskriminatif dan tetap bisa belajar dengan nyaman.
Komitmen ini tidak datang begitu saja, melainkan hasil dari proses penerimaan yang kuat sebagai orang tua. Novita telah menerima kondisi anaknya sepenuhnya sejak awal. Pengalaman mendampingi anak pertama menjadi bekal berharga saat menghadapi kondisi serupa pada anak kedua.
Di balik semua perjuangan tersebut, dukungan keluarga menjadi sumber kekuatan utama. Suami dan keluarga terdekat adalah motivasi terbesar yang membuatnya tetap kuat dan optimis. “Saya percaya bahwa dengan semangat, kesabaran, dan cinta, anak-anaknya tetap memiliki peluang untuk berkembang dan menjalani kehidupan yang bermakna,” ujar Novita.
Kisah ini menjadi pengingat inklusi tidak hanya dimulai dari kebijakan, tetapi juga dari sikap individu. Dengan membuka diri, memberikan edukasi, dan menumbuhkan empati, masyarakat dapat menjadi bagian dari perubahan yang lebih besar. Autisme bukanlah batasan untuk mencintai, melainkan kesempatan untuk memahami keberagaman dengan lebih dalam.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....