Sedekah Hasil Sampah Jadi Budaya Warga Sempaja Timur

  • 10 Des 2025 13:04 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Upaya pengelolaan sampah mandiri di RT 48 Sempaja Timur, terus menunjukkan perkembangan positif. Kesadaran warga yang kian meningkat membuat program peduli sampah semakin berjalan efektif. Ketua RT 48, Rusniansyah, menyampaikan peran kader dan contoh nyata di lapangan sangat memengaruhi perilaku masyarakat.

“Kami selalu turun langsung mendampingi kader agar warga melihat, kami memberi contoh, bukan hanya mengimbau,” ujar Rusniansyah kepada RRI, dalam program dialog Kentongan Pro1 Samarinda.

Ia menambahkan, tidak semua warga memahami jenis sampah bernilai dan tidak bernilai sehingga edukasi rutin dilakukan melalui grup WhatsApp dan media sosial. Warga kini memahami bahwa kardus, botol plastik, kertas, hingga besi termasuk sampah bernilai ekonomi, sementara sampah organik dapat diolah menjadi maggot bagi yang mampu mengelolanya. “Kami terus mengingatkan agar sampah dipilah sejak dari rumah supaya mudah dikelola dan tidak menumpuk di parit,” ucap Rusniansyah.

Kader Bank Sampah RT 48 juga berperan besar dalam memastikan informasi tersampaikan dengan tepat. Menurutnya, kader harus memahami mekanisme pengolahan sampah karena mereka menjadi ujung tombak edukasi ke masyarakat. “Kader itu harus paham, karena mereka yang akan menjelaskan kepada warga, bahkan kepada nasabah dari luar RT 48,” katanya.

Baca juga: RT 48 Sempaja Timur Perkuat Gerakan Lingkungan Berkelanjutan

Dalam pengelolaannya, RT 48 juga bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk antar-RT, BUMN, serta organisasi lokal. Salah satu bentuk dukungan datang melalui pemberian komposter, tandon air, dan mesin portabel untuk kebutuhan penyiraman tanaman toga. Stakeholder ikut terlibat karena melihat keseriusan warga dalam mengelola bank sampah. “Kami ajukan proposal bantuan dan syukurlah ada lembaga yang mendukung, termasuk PLN,” ujar Rusniansyah.

Sementara itu, Kader Penggerak Bank Sampah, Siti Rohayana, menjelaskan tantangan terbesar ke depan adalah regenerasi kader. Sebagian kader saat ini telah berusia di atas 55 tahun sehingga dibutuhkan tenaga muda untuk meneruskan program. “Kami harus mencari generasi muda agar program ini tidak terhenti. Walaupun nanti kami tidak aktif lagi, semangatnya harus tetap berjalan,” ucap Siti.

Siti juga menceritakan, sebagian besar nasabah bank sampah menunjukkan antusiasme tinggi. Banyak dari mereka yang memilih menyedekahkan hasil tabungan sampah ke masjid atau posyandu. Kesadaran ini tumbuh seiring edukasi berkelanjutan dan pengalaman langsung mengurangi dampak banjir. “Warga semakin paham bahwa memilah sampah itu bukan hanya untuk lingkungan, tapi juga bermanfaat sosial,” katanya.

Bahkan tanpa diumumkan pun, warga kini terbiasa menaruh sampah terpilah di depan gedung bank sampah sesuai jadwal. Kader yang telah hafal sampah tiap rumah kemudian melakukan penimbangan dan pencatatan. Kebiasaan ini membuat kegiatan bank sampah berjalan konsisten dan berkelanjutan. Dengan meningkatnya kesadaran warga, RT 48 optimistis dapat mengurangi risiko banjir sekaligus menjaga kesehatan lingkungan secara mandiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....