Melestarikan Warisan Budaya Sarung Samarinda Melalui UMKM
- 22 Sep 2026 18:00 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Pelestarian warisan budaya tidak hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga dapat diwujudkan melalui aktivitas ekonomi masyarakat. Salah satunya dilakukan pelaku UMKM Sarung Samarinda yang terus memproduksi, mengenalkan, dan memasarkan kain tradisional tersebut sebagai bagian dari identitas budaya Kalimantan Timur.
Hal itu menjadi pembahasan dalam program UMKM Bicara Pro 1 RRI Samarinda, Senin, 21 September 2026, dengan menghadirkan Sumarni Liong, Owner Sumarni Sarung Samarinda. Dialog mengangkat tema “Melestarikan Warisan Budaya Lewat UMKM”, sekaligus membahas perjalanan usaha, karakteristik Sarung Samarinda, hingga tantangan yang dihadapi para perajin saat ini.
Sumarni Liong menceritakan, ketertarikannya menekuni usaha Sarung Samarinda bermula pada era 1990-an ketika melihat aktivitas para tetangga yang menjadi penenun. Saat itu, ia mulai mengambil sarung hasil tenunan untuk dipasarkan ke Citra dan kawasan Kebun Sayur di Balikpapan yang menjadi salah satu tujuan pemasaran produknya.
Menurut Sumarni, peluang Sarung Samarinda saat itu cukup terbuka karena banyak masyarakat yang menjadikannya sebagai oleh-oleh. Ketertarikannya kemudian berkembang dari sekadar menjual menjadi ikut menenun. Ia juga mengikuti berbagai pelatihan, termasuk pelatihan pewarnaan dan motif untuk menyesuaikan produk dengan karakter budaya Kalimantan Timur.
“Saya lihat waktu itu memang ada peluangnya. Kalau ada pengunjung, sarung itu sering dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Dari situ saya ikut menenun dan mengikuti pelatihan mewarnai serta motif, karena motif Kalimantan Timur berbeda dengan daerah lainnya,” ujar Sumarni.
Keistimewaan Sarung Samarinda, menurutnya, dapat dilihat dari motif dan proses pembuatannya. Salah satu ciri yang membedakannya adalah adanya jahitan di bagian tengah sarung yang dikerjakan secara manual dengan tangan. Proses tersebut menjadi bagian dari karakter pembuatan kain tradisional yang membedakannya dari produk sarung yang dibuat menggunakan proses pabrik.
Selain motif, proses pewarnaan juga menjadi bagian penting dalam pembuatan Sarung Samarinda. Sumarni menjelaskan, benang pada awalnya masih dalam kondisi polos sebelum diberi warna sesuai kebutuhan. Pewarna yang digunakan dapat berupa bahan alami maupun sintetis, sementara pewarna alami dapat berasal dari daun-daunan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Karakter motif juga menjadi bagian dari identitas Sarung Samarinda. Dalam dialog tersebut dijelaskan, sarung dengan motif kotak-kotak umumnya digunakan untuk laki-laki, sedangkan sarung perempuan memiliki motif yang berbeda. Sumarni menyebut sejumlah motif yang digunakan memiliki keterkaitan dengan motif dari wilayah Kalimantan Timur, termasuk yang berasal dari kawasan Melak.
Di tengah perkembangan zaman, keberlangsungan usaha tenun Sarung Samarinda menghadapi sejumlah tantangan. Sumarni menyebut kondisi ekonomi turut memengaruhi daya beli masyarakat. Ia juga melihat jumlah perajin mengalami penurunan, dari sebelumnya sekitar 80 hingga hampir 100 orang menjadi sekitar 50 orang, dan tidak seluruhnya masih aktif karena sebagian perajin telah berusia lanjut.
Meski menghadapi tantangan, Sumarni tetap mempertahankan usahanya. Dukungan dari berbagai pihak juga dinilai membantu keberlangsungan usaha, salah satunya bantuan Bank Indonesia berupa lemari penyimpanan sarung yang diterima sekitar dua bulan sebelum dialog berlangsung. Fasilitas tersebut diharapkan dapat membuat penataan produk menjadi lebih baik dan menarik bagi pengunjung.
“Saya masih tetap menjalankan usaha ini, Pak. Kami juga sudah dibantu Bank Indonesia berupa lemari untuk tempat sarung. Karena kami sering menerima kunjungan, penataan yang lebih baik diharapkan bisa membuat tempat kami semakin menarik bagi pengunjung,” kata Sumarni.
Bagi Sumarni, mempertahankan Sarung Samarinda berarti ikut menjaga keberadaan keterampilan menenun yang telah berkembang di tengah masyarakat. Peralatan tradisional pun masih digunakan, khususnya ketika mengikuti pameran, meskipun saat ini para perajin juga menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang dinilai lebih praktis dalam proses produksi. Di sisi lain, tingginya nilai budaya Sarung Samarinda juga tercermin dari perhatian masyarakat yang masih menjadikannya sebagai oleh-oleh maupun bagian dari kebutuhan pada momentum tertentu.
Upaya melestarikan Sarung Samarinda melalui UMKM menunjukkan bahwa warisan budaya dapat terus hidup ketika tetap diproduksi, digunakan, dipasarkan, dan dikenalkan kepada masyarakat lintas generasi. Keberadaan perajin seperti Sumarni Liong menjadi bagian dari mata rantai yang menghubungkan keterampilan tradisional dengan aktivitas ekonomi, sekaligus membuka ruang agar Sarung Samarinda tetap dikenal sebagai salah satu kekayaan budaya Kalimantan Timur.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....