Fit3 Bakery and Cake Samarinda, Bukti UMKM Bisa Tumbuh dari Modal Terbatas
- 26 Agt 2026 06:50 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Membangun usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak selalu harus diawali dengan modal besar. Keberanian memulai, kemauan belajar, kemampuan membaca peluang, serta konsistensi menjaga kualitas menjadi modal penting agar usaha dapat bertahan dan berkembang. Hal tersebut menjadi salah satu pelajaran dari perjalanan Abdul Gafur, Owner Fit3 Bakery and Cake, dalam dialog UMKM Bicara Pro 1 RRI Samarinda, Senin, 24 Agustus 2026.
Abdul Gafur mengawali perjalanan usahanya setelah sebelumnya bekerja sebagai pelaut antarpulau. Keinginan untuk lebih banyak berkumpul bersama keluarga kemudian mendorongnya bersama istri membangun usaha dari rumah. Sebelum memproduksi sendiri, mereka sempat mengambil produk roti dari tempat lain hingga akhirnya melihat adanya peluang untuk mengembangkan bakery sendiri.
Untuk meningkatkan keterampilan, Abdul Gafur bersama istrinya mengikuti pelatihan bakery dan cake yang diselenggarakan salah satu brand tepung. Dalam pelatihan tersebut, ia fokus mempelajari pembuatan roti, sementara istrinya mendalami pembuatan kue.
"Berbekal pengetahuan itu, saya dan istri mulai serius merintis usaha pada 2018 dan mengurus legalitas usaha melalui OSS pada 2019. Usaha kami juga telah memiliki sertifikasi halal," ujarnya.
Pada tahap awal, keterbatasan modal membuat Abdul Gafur memanfaatkan peralatan bekas untuk memulai produksi. Oven dan mixer diperoleh dengan biaya sekitar Rp7 juta. Namun, seiring bertambahnya pengalaman, ia menyadari kualitas bahan baku menjadi bagian penting dalam menghasilkan produk yang dapat diterima konsumen. "Saya terus mengikuti berbagai pelatihan dan pembinaan dari instansi terkait untuk meningkatkan kapasitas usaha," ujarnya.
Perkembangan usaha mulai terasa setelah sekitar satu tahun berjalan. Produk Fit3 Bakery and Cake mulai dipasarkan ke kantin-kantin sekolah, lapak kecil, serta memenuhi sejumlah kebutuhan pesanan untuk perusahaan dan kegiatan tertentu. Saat ini, pemasaran lebih banyak difokuskan pada kantin sekolah dan lapak di sekitar wilayah Sambutan. Usaha tersebut juga telah memiliki dua outlet, masing-masing berada di kawasan Kelurahan Sindang Sari dan Kelurahan Makroman.
Dari sisi produksi, bakery tersebut mampu menghasilkan ratusan produk setiap hari. Produksinya antara lain roti panjang untuk kebutuhan hotdog sekitar 500 buah per hari dan roti bulat untuk burger lebih dari 300 buah. Produk lainnya seperti brownies, pizza mini, roti tawar, roti sosis, serta roti goreng atau bomboloni juga diproduksi secara rutin. Tingginya permintaan membuat produk yang diproduksi setiap hari umumnya terserap oleh pasar.
Menariknya, Abdul Gafur belum menjadikan media sosial sebagai fokus utama pemasaran. Bukan karena tidak melihat peluang digital, tetapi karena kapasitas produksi dan jumlah tenaga kerja masih terbatas. Ia khawatir promosi yang terlalu luas justru membuat pesanan melebihi kemampuan produksi sehingga pelayanan kepada konsumen tidak maksimal. "Saat ini Fit3 Bakery and Cake telah mempekerjakan tiga orang warga sekitar," ucap Abdul Gafur kepada RRI Samarinda.
Strategi utama yang diterapkan Abdul Gafur untuk menghadapi persaingan bakery adalah menjaga kualitas produk dan rasa secara konsisten. Penggunaan bahan baku berkualitas juga menjadi perhatian penting agar konsumen tetap percaya dan kembali membeli. “Kami berusaha untuk menjaga kualitasnya dan rasanya. Terus bahan-bahannya kami utamakan yang berkualitas, yang lebih bagus,” ujarnya.
Selain mengandalkan kemampuan internal, keberlangsungan usaha juga terbantu oleh dukungan pemerintah. Abdul Gafur menyebut pembinaan dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM turut memberikan manfaat, termasuk bantuan peralatan seperti mixer dan oven. Menurutnya, dukungan tersebut membantu memperlancar proses produksi dan mengembangkan kapasitas usaha. Meski demikian, ia berharap bantuan peralatan ke depan dapat semakin disesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas usaha masing-masing pelaku UMKM.
Abdul Gafur juga menyadari pengembangan usaha membutuhkan proses bertahap. Untuk sementara, ia masih berkonsentrasi memperkuat dua outlet yang telah berjalan sebelum memperluas pasar ke wilayah lain. Rencana memperkuat pemasaran melalui media sosial juga telah disiapkan, namun akan dilakukan ketika kapasitas produksi dan tenaga kerja sudah lebih siap.
"Kami tidak ingin pertumbuhan usaha dilakukan secara terburu-buru hingga berisiko mengecewakan pelanggan," katanya.
Bagi Abdul Gafur, keterbatasan modal bukan alasan untuk tidak memulai usaha. Pengelolaan keuangan yang disiplin dan kemauan untuk terus memutar hasil usaha menjadi bagian penting dalam proses membesarkan bisnis. “Jangan pernah menyerah untuk usaha. Berusaha apa saja selama kita masih bisa bergerak atau mempunyai kesempatan untuk diusahakan,” ucapnya kepada masyarakat yang masih ragu memulai usaha.
Perjalanan Fit3 Bakery and Cake menunjukkan UMKM dapat naik kelas melalui proses yang bertahap dan konsisten. Dari usaha yang bermula dengan peralatan bekas, kini berkembang menjadi usaha dengan dua outlet dan tiga tenaga kerja dari masyarakat sekitar. Bagi Abdul Gafur, keberanian memulai, terus belajar, menjaga kualitas, memanfaatkan dukungan pembinaan, serta memahami kemampuan produksi menjadi strategi penting untuk membangun usaha bakery yang berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....