Kreativitas UMKM Mengolah Produk Tradisional Jadi Peluang Usaha Menjanjikan

  • 08 Mei 2026 11:01 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Produk tradisional dinilai masih memiliki peluang besar untuk berkembang di tengah perubahan selera pasar dan arus modernisasi. Dengan kreativitas dan inovasi, produk lokal tidak hanya mampu menjaga warisan kuliner daerah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hal itu dibahas dalam program “UMKM Bicara” Pro 1 RRI Samarinda dengan tema “Kreativitas UMKM Mengolah Produk Tradisional”, dikutip Jumat 8 Mei 2026.

Dialog tersebut menghadirkan Yulianty Dyah R, pemilik usaha Bakoel Oza yang dikenal kreatif mengolah telur asin menjadi berbagai produk modern dan bernilai jual tinggi. Produk olahannya tidak hanya berupa telur asin biasa, tetapi juga berkembang menjadi beragam varian makanan ringan berbahan dasar telur asin.

Dalam perbincangan tersebut, Yulianty menceritakan usaha yang dirintisnya bermula dari kebutuhan keluarga. Ia mengaku mulai membuat telur asin karena sang ibu yang menderita diabetes tetap ingin menikmati telur asin dengan rasa yang tidak terlalu asin seperti produk di pasaran.

“Awalnya karena ibu saya suka telur asin, tetapi tidak boleh makan terlalu asin. Dari situ saya belajar membuat telur asin sendiri dengan rasa yang lebih ringan,” ujar Yulianty.

Usaha tersebut mulai berkembang ketika produk buatannya disukai teman-teman kuliahnya. Berawal dari produksi kecil untuk lingkungan sekitar, pesanan terus bertambah hingga akhirnya ia mengikuti pelatihan UMKM yang diselenggarakan Bank Indonesia. Dari pelatihan itulah ia mulai mengembangkan inovasi produk berbahan dasar telur asin.

Saat ini Bakoel Oza memiliki beberapa varian telur asin seperti original, bawang, pedas, hingga panggang. Selain itu, Yulianty juga mengembangkan produk turunan seperti kerupuk telur asin yang dibuat dari telur asin pecah hasil proses perebusan agar tidak terbuang sia-sia.

Menurutnya, kreativitas dalam mengolah produk tradisional menjadi kunci penting agar UMKM tetap bertahan dan mampu bersaing. Ia mengaku banyak belajar secara otodidak melalui internet dan berbagai komunitas usaha untuk menciptakan produk baru yang unik dan memiliki daya tarik pasar.

“Sayang kalau bahan yang masih bagus terbuang begitu saja. Akhirnya saya mencari ide lewat internet dan mencoba mengolah telur asin menjadi produk lain yang lebih menarik,” katanya.

Yulianty juga menjelaskan bahwa produksi telur asin membutuhkan proses cukup panjang agar menghasilkan rasa yang khas. Untuk mendapatkan tekstur telur asin yang berminyak namun tidak terlalu asin, proses pengasinan dilakukan selama 10 hingga 14 hari menggunakan telur bebek lokal asal Samarinda.

Selain fokus pada kualitas produk, ia juga terus menjaga konsistensi produksi meski sempat terdampak pandemi COVID-19. Sebelum pandemi, produksi Bakoel Oza mampu mencapai lima hingga enam ikat telur sekali produksi, namun kini distabilkan menjadi dua ikat agar kualitas tetap terjaga.

Melalui usaha yang dirintis sejak masa kuliah itu, Yulianty berharap produk tradisional lokal dapat terus berkembang dan diminati generasi muda. Ia juga mendorong pelaku UMKM lain untuk tidak takut berinovasi dan memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana belajar maupun pemasaran produk.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....