Inovasi UMKM Kaltim: Limbah Kayu Ulin Disulap Jadi Pewarna Alami Batik Eksklusif
- 21 Apr 2026 19:26 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda — Inovasi dalam industri kreatif lokal Kalimantan Timur terus menunjukkan perkembangan signifikan. Salah satunya melalui pemanfaatan kekayaan alam daerah sebagai bahan baku bernilai seni tinggi. Program UMKM Bicara di Pro 1 RRI Samarinda mengangkat kisah sukses Erly Setia Marwati, pemilik usaha DQriyaku, yang berhasil mengolah limbah kayu ulin menjadi pewarna alami batik yang unik dan eksklusif.
Erly melihat potensi besar pada kayu ulin yang melimpah, khususnya limbah hasil penggergajian yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Pemanfaatan pewarna alami ini juga menjadi solusi untuk meminimalkan pencemaran lingkungan di sekitar lokasi produksinya yang berada di kawasan padat penduduk.
“Kayu ulin saya ambil dari limbah hasil penggergajian yang biasanya digunakan untuk membuat kursi, meja, dan sebagainya. Limbah tersebut kemudian saya olah menjadi pewarna,” ujarnya kepada RRI, Senin 20 April 2026.
| Baca juga: Bar Fresh Mart Hadirkan Inovasi UMKM Sehat |
Keunikan batik DQriyaku terletak pada karakter handmade dan eksklusif. Setiap helai kain, mulai dari hijab, outer, hingga syal, diproses secara mandiri untuk memastikan kualitas tetap terjaga. Salah satu motif unggulannya adalah “Lali Munting” yang memadukan estetika Pesut Mahakam dengan bunga karamunting. Selain itu, terdapat motif “Asmaralaya” yang terinspirasi dari keeksotisan anggrek hitam dan pakis khas Kalimantan.
Dalam memperkuat identitas produk, Erly mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk motif-motif ciptaannya dengan dukungan pemerintah daerah. Ia menekankan pentingnya narasi di balik setiap desain, sebagaimana tercermin dalam filosofi logo usahanya. Pendekatan ini menjadikan setiap produk memiliki nilai sejarah dan keunikan tersendiri bagi konsumen.
Proses produksi batik dengan pewarna alami diakui membutuhkan ketelatenan lebih dibandingkan dengan pewarna sintetis. Tahapannya meliputi scouring atau pembersihan zat kimia pada kain, pembuatan pola, pencantingan, hingga proses fiksasi untuk mengunci warna agar tidak mudah luntur.
Karena menggunakan bahan alami, konsumen juga diberikan edukasi terkait perawatan khusus, seperti mencuci dengan sabun khusus atau sampo serta menghindari penjemuran di bawah sinar matahari langsung.
Erly turut membagikan pesan motivasi bagi pelaku UMKM maupun masyarakat yang ingin merintis usaha di bidang kreatif. Ia menilai rasa takut gagal kerap menjadi penghambat utama, padahal keberanian untuk mencoba merupakan kunci kesuksesan.
“Jangan takut untuk memulai. Kadang kita memiliki talenta, tetapi ragu karena takut gagal. Bagi saya, berhasil atau gagal itu urusan nanti, yang penting mencoba terlebih dahulu,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mencintai dan menggunakan produk dalam negeri. Langkah ini dinilai penting untuk mendukung penguatan ekonomi kerakyatan sekaligus melestarikan budaya Kalimantan Timur.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....