Harga Plastik Naik 60 Persen, UMKM Balikpapan Pangkas Porsi Dagangan

  • 09 Apr 2026 13:46 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Balikpapan - Gelombang kenaikan harga plastik yang mencapai puncaknya pada April 2026 menimbulkan dampak serius bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pedagang kecil di Kota Balikpapan. Dipicu oleh gangguan logistik global dan konflik geopolitik yang berlarut, harga komoditas plastik melonjak drastis hingga 60 persen di Balikpapan, memicu lonjakan biaya operasional yang tak terhindarkan.

Berdasarkan pantauan di lapangan pada Kamis, 9 April 2026, para pedagang terpaksa memutar otak agar tetap dapat bertahan. Strategi dilematis pun diambil, mulai dari pengurangan penggunaan plastik hingga terpaksa mengurangi porsi dagangan demi menghindari kenaikan harga jual ke konsumen.

Sumini Wulandari, seorang pedagang bubur kacang hijau di Balikpapan, mengungkapkan kenaikan harga kemasan plastik sudah dirasakan selama sepekan terakhir. Demi menjaga loyalitas pelanggan, ia memilih mengurangi porsi dagangannya.

"Pengaruhnya besar sekali. Kalau harga jual kami naikkan, rasanya tidak enak dengan pelanggan. Jadi, solusi sementara kami kurangi porsinya," ucap Sumini kepada RRI.

Sumini mengakui, semenjak kenaikan harga plastik, jumlah pembeli yang datang mengalami penurunan. Ia berharap situasi segera kembali normal agar pedagang kecil seperti dirinya dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi serupa dikonfirmasi oleh Risna, pengelola Toko Plastik H. Aini. Menurutnya, kenaikan harga sudah terjadi satu minggu terakhir dengan persentase berkisar 30 hingga 60 persen.

"Harga plastik bervariasi, untuk ukuran kecil naik sekitar Rp1.000, sedangkan ukuran sedang naik Rp4.000 hingga Rp5.000. Bahkan plastik untuk keperluan jasa laundry kenaikannya mencapai 60 persen, dari harga 20 ribuan menjadi 26 hingga 28 ribu per pak," ucap Risna.

Selain lonjakan harga, Risna juga mengeluhkan kekosongan stok barang tertentu yang banyak dicari konsumen. Ia menuturkan, para pelaku usaha jasa laundry di sekitar tokonya mengeluhkan situasi ini, menyebabkan kebingungan apakah harus menaikkan tarif cuci pakaian atau bertahan dengan keuntungan yang semakin menipis.

Meskipun harga melonjak, konsumen tetap melakukan pembelian karena plastik merupakan keperluan pokok operasional usaha. Namun, tingginya lonjakan biaya ini menjadi beban berat yang mengancam keberlangsungan usaha kecil di Balikpapan jika tidak segera mendapatkan solusi atau intervensi harga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....