Harga Plastik Naik, Pedagang Kecil Samarinda Putar Strategi Bertahan
- 06 Apr 2026 17:40 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Kenaikan harga plastik dalam dua pekan terakhir mulai menekan pelaku usaha kecil di kawasan Pasar Pagi Samarinda, khususnya di sepanjang Jalan KH Khalid. Para pedagang makanan terpaksa memutar strategi agar tetap bertahan tanpa harus menaikkan harga jual di tengah daya beli masyarakat yang masih sensitif.
Maryam, pedagang cendol yang memiliki empat gerobak di beberapa titik, mengaku lonjakan harga kemasan berdampak langsung pada biaya operasional harian. Kebutuhan plastik seperti cup, sedotan, kantong es, dan kresek kini mengalami kenaikan signifikan.
“Naiknya sudah sekitar dua minggu ini dan bertahap. Awalnya sedikit-sedikit, lama-lama jadi tinggi,” ujarnya, Senin 6 April 2026.
Ia menjelaskan, sebelumnya kebutuhan plastik untuk seluruh gerobaknya berkisar Rp200 ribu per hari. Namun kini meningkat menjadi sekitar Rp300 ribu. Kenaikan ini membuat margin keuntungan semakin tergerus, meski aktivitas jual beli tetap berjalan seperti biasa.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, Maryam memilih mengurangi penggunaan plastik tanpa mengorbankan pelayanan kepada pelanggan. Ia mulai menggunakan ukuran kemasan yang lebih kecil serta menyesuaikan jumlah pembungkus.
“Kalau bisa diakali, kita akali saja. Misalnya pakai plastik kecil atau dikurangi,” katanya.
Meski biaya meningkat, Maryam menegaskan tidak menaikkan harga jual. Keputusan ini diambil untuk menjaga pelanggan tetap bertahan di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. Namun konsekuensinya, keuntungan yang diperoleh menjadi berkurang.
“Pendapatan pasti ada berkurang, walaupun tidak terlalu besar,” ucapnya.
Hal serupa juga dirasakan Adi, pedagang pentol di kawasan yang sama. Ia menyebut harga plastik untuk kemasan pentol mengalami kenaikan cukup tajam dalam waktu singkat.
“Ada yang dari Rp7.000 jadi Rp12.000, bahkan sampai Rp17.000. Banyak yang naik,” ujarnya.
Berbeda dengan sebagian pelaku usaha yang mengurangi ukuran produk, Adi memilih tetap mempertahankan kualitas dan porsi jualannya. Baginya, menjaga kepercayaan pelanggan lebih penting meski harus mengorbankan sebagian keuntungan.
“Kami tetap jaga kualitas, tidak mau mengecilkan ukuran. Tapi memang ada pengurangan dari keuntungan karena biaya plastik masuk ke modal,” ujarnya.
Fenomena ini menunjukkan kerentanan pelaku usaha mikro terhadap fluktuasi harga bahan penunjang yang selama ini kerap dianggap sepele. Plastik, yang menjadi kebutuhan dasar dalam usaha makanan, ternyata memiliki pengaruh besar terhadap struktur biaya produksi.
Di sisi lain, kondisi ini juga membuka peluang bagi penggunaan alternatif kemasan yang lebih ramah lingkungan. Namun, keterbatasan akses dan harga yang relatif lebih tinggi masih menjadi tantangan bagi pedagang kecil untuk beralih.
Para pedagang berharap harga plastik tidak kembali mengalami kenaikan agar usaha mereka tetap bisa berjalan stabil. Di tengah tekanan biaya, mereka memilih bertahan dengan berbagai cara, sembari menjaga kepercayaan pelanggan yang menjadi kunci keberlangsungan usaha.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....