Limbah Ketupat Disulap Jadi Kerajinan, Warga Samarinda Raup Nilai Tambah
- 06 Apr 2026 17:36 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Di tengah meningkatnya kesadaran terhadap pengelolaan lingkungan, warga Kampung Ketupat Samarinda mulai menunjukkan bahwa limbah bukan lagi sekadar sisa produksi. Melalui inovasi dan pendampingan, limbah ketupat kini diolah menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi yang membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Perubahan ini tidak terjadi begitu saja. Ketua Pokdarwis Kampung Ketupat Samarinda, Abdul Aziz, mengungkapkan sebelumnya limbah dari proses pembuatan ketupat, terutama lidi daun kelapa, belum dimanfaatkan secara optimal. Namun, setelah adanya pelatihan dari Bank Indonesia, masyarakat mulai melihat potensi yang selama ini terabaikan.
“Dulu limbahnya tidak dimanfaatkan. Sekarang bisa diolah jadi produk bernilai ekonomi,” ujarnya, Minggu 5 April 2026.
Limbah lidi yang sebelumnya dianggap tidak berguna, kini diolah menjadi berbagai produk kreatif seperti piring, keranjang, kotak tisu, hingga lampu gantung dan suvenir. Proses pengolahan ini tidak hanya membutuhkan keterampilan tangan, tetapi juga kreativitas dalam mengembangkan desain yang menarik dan memiliki nilai jual.
Transformasi ini menjadi langkah penting dalam mengembangkan ekonomi kreatif berbasis lingkungan. Selain meningkatkan pendapatan, inovasi tersebut juga membantu mengurangi volume limbah rumah tangga yang dihasilkan dari aktivitas produksi ketupat yang cukup tinggi di kawasan tersebut.
Abdul Aziz menilai pendekatan ini memberikan manfaat ganda bagi masyarakat. Di satu sisi, persoalan sampah dapat ditekan, di sisi lain peluang ekonomi baru terbuka lebar, terutama bagi kelompok ibu rumah tangga dan generasi muda.
“Ini sangat bermanfaat, bukan hanya soal ekonomi tapi juga lingkungan,” katanya.
Pendampingan yang dilakukan juga mendorong masyarakat untuk tidak berhenti pada satu jenis produk, melainkan terus berinovasi menciptakan variasi kerajinan yang lebih beragam dan kompetitif di pasaran. Hal ini penting agar produk lokal mampu bersaing dan memiliki daya tarik bagi konsumen, baik di dalam maupun luar daerah.
Upaya ini sejalan dengan tren global yang mengarah pada ekonomi sirkular, di mana limbah diolah kembali menjadi produk bernilai guna. Kampung Ketupat pun perlahan bertransformasi tidak hanya sebagai sentra produksi makanan tradisional, tetapi juga sebagai pusat kreativitas berbasis keberlanjutan.
Ke depan, masyarakat berharap pelatihan dan pendampingan dapat terus berlanjut. Dengan demikian, inovasi pengolahan limbah tidak berhenti sebagai program sesaat, melainkan menjadi bagian dari budaya baru dalam mengelola sumber daya secara bijak.
Di balik anyaman lidi yang sederhana, tersimpan harapan besar—bahwa dari sisa yang dulu terbuang, kini tumbuh peluang ekonomi sekaligus kesadaran menjaga lingkungan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....