UMKM Bicara RRI, Kisah Sukses Mantau Alfasa Samarinda
- 01 Feb 2026 11:26 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Program UMKM Bicara Pro 1 RRI Samarinda kembali menghadirkan kisah inspiratif pelaku usaha lokal yang berhasil mengembangkan produknya hingga dikenal luas masyarakat. Senin, 26 Januari 2026, program ini mengangkat topik “Membuat Roti Mantau Menjadi Bisnis Sukses” dengan menghadirkan Hilda Rimayani, owner Mantau Alfasa, sebagai narasumber.
Dalam perbincangan yang disiarkan melalui frekuensi 97,6 FM, streaming RRI Digital, serta kanal YouTube dan Facebook RRI Samarinda, Hilda berbagi perjalanan membangun usaha roti mantau yang kini menjadi salah satu kuliner favorit di Kota Samarinda. Usaha yang dirintis sejak 2020 ini berawal dari keinginan sederhana untuk menambah keterampilan dan membantu perekonomian keluarga.
Hilda mengungkapkan, langkah awalnya dimulai dengan mengikuti pelatihan roti dan kue yang diselenggarakan Balai Pelatihan, kini bernama Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP). Dari pelatihan tersebut, ia memperoleh bekal pengetahuan yang kemudian diterapkan dalam usaha kecil yang dirintis dari rumah. “Awalnya saya ikut pelatihan di BPBP karena ingin menambah wawasan dan keterampilan. Dari situlah saya terinspirasi untuk mencoba membuka usaha,” ujar Hilda Rimayani.
Pada tahap awal, Hilda sempat menjual roti gembung dan roti manis. Namun, respons pasar yang kurang optimal membuatnya berhenti sejenak dan mencari peluang lain. Keputusan beralih ke roti mantau justru menjadi titik balik usaha Mantau Alfasa, terutama karena produk tersebut masih tergolong jarang di Samarinda dibandingkan kota asalnya, Balikpapan.
Uji coba produk dimulai dari lingkungan terdekat, yakni keluarga dan tetangga. Respons positif yang diterima membuat Hilda semakin yakin mengembangkan usahanya. Outlet pertama pun dibuka di Jalan M Said, Samarinda, tepat di jalur poros yang strategis. Sejak itu, mantau Alfasa perlahan mendapat tempat di hati masyarakat.
Dalam dialog tersebut, Hilda menjelaskan bahwa roti mantau produksinya memiliki tekstur renyah di luar dan lembut di dalam, dengan varian kukus dan goreng. Isian daging sapi lada hitam menjadi produk andalan yang paling diminati konsumen. “Menurut pelanggan, rasanya cocok di lidah. Bahkan katanya makan satu itu tidak cukup,” ucapnya.
Seiring perkembangan usaha, pemasaran Mantau Alfasa tidak hanya mengandalkan penjualan di outlet, tetapi juga melalui layanan daring. Pesanan datang melalui media sosial dan WhatsApp, bahkan produk tersebut kerap dibawa pelanggan sebagai oleh-oleh ke luar daerah hingga ke Malaysia. Dari penjualan outlet dan online, omset per bulan dapat mencapai jutaan rupiah.
Produksi dilakukan secara mandiri dengan bantuan keluarga, sementara untuk penjualan di outlet Hilda merekrut tenaga kerja dari lingkungan sekitar. Selain mantau, ia juga mengembangkan produk pendamping seperti stik bawang yang diproduksi secara musiman, terutama menjelang hari besar keagamaan.
Bagi Hilda, perjalanan usaha UMKM tidak selalu berjalan mulus, namun konsistensi dan kemauan belajar menjadi kunci bertahan. Kisah Mantau Alfasa yang disiarkan melalui UMKM Bicara RRI Samarinda ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pelaku UMKM lain untuk berani memulai, beradaptasi, dan terus mengembangkan usaha lokal agar mampu bersaing di tengah tantangan era digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....