Inflasi Kaltim Juni 2026 Terkendali, Transportasi dan Pangan Jadi Pendorong
- 04 Jul 2026 10:13 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Inflasi Provinsi Kalimantan Timur pada Juni 2026 tetap berada dalam kondisi terkendali meski mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan harga dipicu penyesuaian harga BBM nonsubsidi, meningkatnya tarif angkutan udara saat libur sekolah, serta terganggunya pasokan sejumlah komoditas pangan akibat faktor cuaca.
Berdasarkan rilis Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Timur, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kaltim pada Juni 2026 mencatat inflasi sebesar 0,70 persen secara bulanan (month to month/mtm), lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 0,17 persen. Sementara itu, inflasi tahunan tercatat 3,20 persen (year on year/yoy) dengan inflasi tahun berjalan mencapai 2,36 persen (year to date/ytd).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Jajang Hermawan, mengatakan tekanan inflasi pada Juni 2026 terutama disumbangkan oleh kelompok transportasi. Menurutnya, penyesuaian harga BBM nonsubsidi serta meningkatnya tarif angkutan udara seiring periode libur sekolah menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan inflasi di Kalimantan Timur.
Ia menjelaskan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga memberikan andil terhadap inflasi. Kondisi tersebut dipengaruhi pasokan sejumlah komoditas strategis seperti bawang merah, beras, dan ikan layang yang mengalami gangguan akibat cuaca kurang kondusif di daerah pemasok.
"Secara spasial, inflasi bulanan terjadi di seluruh daerah pembentuk IHK di Kalimantan Timur. Kota Balikpapan mencatat inflasi tertinggi sebesar 0,86 persen, disusul Kota Samarinda 0,72 persen, Kabupaten Penajam Paser Utara 0,39 persen, dan Kabupaten Berau 0,27 persen," ujar Jajang kepada rri.co.id, Sabtu 4 Juli 2026.

Komoditas yang paling besar menyumbang inflasi pada Juni 2026 adalah bensin, angkutan udara, bawang merah, beras, dan ikan layang. Namun demikian, tekanan inflasi berhasil diredam oleh turunnya harga sejumlah komoditas seperti daging ayam ras, cabai rawit, semangka, tomat, dan kacang panjang.
Jajang mengungkapkan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat implementasi strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
"Pada aspek keterjangkauan harga, TPID selama Juni 2026 melaksanakan Gerakan Pangan Murah, operasi pasar, dan berbagai kegiatan stabilisasi harga di sejumlah daerah, di antaranya Kota Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara, dan Kota Bontang," kata Jajang.
Lebih lanjut, ia menyampaikan pada aspek ketersediaan pasokan, TPID bersama Bulog dan para pemangku kepentingan terus memperkuat distribusi beras SPHP, Minyakita, serta pengadaan komoditas pangan strategis lainnya untuk menjaga kesinambungan pasokan di Kalimantan Timur.
Di sisi lain, koordinasi antardaerah juga terus diperkuat guna memastikan distribusi barang tetap lancar dan mengantisipasi hambatan rantai pasok. Sementara itu, komunikasi publik dilakukan melalui rapat koordinasi mingguan TPID, High Level Meeting (HLM), serta penyampaian informasi mengenai perkembangan harga, ketersediaan pasokan, dan imbauan belanja bijak kepada masyarakat.
Jajang menegaskan, TPID di Kalimantan Timur akan terus memperkuat sinergi dan langkah mitigasi dini melalui implementasi strategi 4K secara konsisten, termasuk penguatan Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS). Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas harga, melindungi daya beli masyarakat, sekaligus mendukung aktivitas ekonomi daerah tetap tumbuh secara berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....