Akademisi: Potensi Besar, SDM Jadi Tantangan Industri Halal Indonesia

  • 14 Jun 2026 13:06 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama dalam industri halal global berkat kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Kepala Halal Center Universitas Mulawarman, Sulistyo Prabowo, mengatakan potensi tersebut didukung oleh ketersediaan bahan baku yang dapat diperoleh sepanjang tahun.

Menurut Sulistyo, kondisi tersebut menjadi keunggulan dibandingkan negara-negara subtropis yang memiliki empat musim. “Negara subtropis memiliki periode tertentu ketika produksi bahan baku terhambat, sementara Indonesia relatif tidak mengalami kendala itu,” katanya saat menjadi narasumber Teras UMKM Pro 4 Samarinda, dikutip Minggu 14 Juni 2026.

Meski demikian, ia menilai Indonesia masih menghadapi persoalan dalam pemanfaatan sumber daya yang tersedia. “Kita sebenarnya tidak kekurangan bahan baku, tetapi masih banyak bahan industri yang harus diimpor karena keterbatasan teknologi pengolahan,” ucapnya.

Ia mencontohkan bahan tambahan pangan berupa sistin yang dapat diekstraksi dari bulu unggas. “Bahan seperti sistin yang digunakan untuk industri pangan dan farmasi sebenarnya bisa dihasilkan dari sumber daya yang banyak tersedia di Indonesia, tetapi masih lebih banyak diimpor,” ujar Sulistyo.

Selain persoalan teknologi, tantangan lain yang dihadapi industri halal nasional adalah kualitas sumber daya manusia. “Menurut saya, tantangan terbesar saat ini adalah kompetensi SDM dan pemahaman masyarakat terhadap esensi halal itu sendiri,” ucapnya.

Sulistyo menjelaskan, konsep halal tidak hanya berkaitan dengan sertifikasi atau pemenuhan aturan syariat. “Halal juga menyangkut perilaku dan komitmen dalam menjalankan proses produksi yang sesuai dengan prinsip-prinsip halal secara konsisten,” katanya.

Menjelang penerapan program Wajib Halal Oktober 2026, ia melihat masih banyak pelaku usaha yang berorientasi pada sertifikat semata. “Banyak yang ingin mendapatkan sertifikat halal dengan cepat, tetapi belum memahami pentingnya membangun sistem jaminan halal dalam proses produksinya,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan industri halal sangat bergantung pada penerapan sistem yang berkelanjutan. “Jika sistem jaminan halal diterapkan dengan baik, maka sertifikat halal akan menjadi konsekuensi dari proses yang benar, bukan sekadar tujuan administratif,” ucap Sulistyo.

Di sisi lain, perkembangan teknologi digital juga menghadirkan tantangan baru dalam pengawasan produk halal. “Munculnya bisnis berbasis daring seperti ghost kitchen membuat pengawasan menjadi lebih kompleks karena transaksi berlangsung langsung antara produsen dan konsumen,” katanya.

Meski demikian, Sulistyo optimistis teknologi dapat menjadi peluang apabila didukung regulasi yang tepat. “Teknologi dan kecerdasan buatan tidak bisa dihindari, sehingga yang perlu dilakukan adalah mengelolanya melalui kebijakan yang mampu menjaga ekosistem halal tetap berjalan dengan baik,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....