Industri Halal Jadi Peluang Besar di tengah Tren Global
- 14 Jun 2026 13:04 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Industri halal terus menunjukkan perkembangan yang signifikan dan menjadi salah satu sektor ekonomi yang menjanjikan di tingkat global. Kepala Halal Center Universitas Mulawarman, Sulistyo Prabowo, mengatakan perkembangan industri halal saat ini tidak hanya dilihat dari aspek agama, tetapi juga sains, politik, dan ekonomi.
Menurut Sulistyo, meningkatnya mobilitas penduduk dunia turut mendorong pertumbuhan kebutuhan terhadap produk halal. “Migrasi masyarakat muslim ke berbagai negara membuat kebutuhan akan produk dan layanan halal semakin meningkat di berbagai belahan dunia,” katanya saat menjadi narasumber Teras UMKM Pro 4 Samarinda, dikutip Minggu 14 Juni 2026.
Ia menjelaskan, kebutuhan halal paling mudah terlihat pada sektor makanan dan minuman. “Ke mana pun umat Islam pergi, mereka akan mencari makanan dan minuman yang terjamin kehalalannya sehingga permintaan terhadap produk halal terus bertambah,” ucapnya.
Perkembangan tersebut turut memengaruhi perdagangan internasional, termasuk arus impor dan ekspor. “Produk yang masuk ke Indonesia maupun yang diekspor ke negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim kini semakin banyak yang mensyaratkan sertifikasi halal,” ujarnya.
Sulistyo menilai, masih banyak masyarakat yang menganggap halal hanya berkaitan dengan makanan dan minuman. “Padahal konsep halal jauh lebih luas karena juga mencakup cara berpakaian, cara berinteraksi, hingga bagaimana seseorang memperoleh penghasilan yang benar,” ucapnya.
Ia menambahkan, konsep halal dan haram seharusnya dipahami secara lebih mendalam. “Haram bukan hanya berarti dilarang, tetapi juga memiliki makna sesuatu yang dijauhkan demi memuliakan manusia,” katanya.
Dalam perkembangannya, industri halal kini telah mencakup berbagai sektor di luar pangan. “Saat ini halal berkembang menjadi halal lifestyle dan halal ecosystem yang meliputi keuangan syariah, pariwisata, fesyen, kosmetik, farmasi, hingga logistik halal,” ucap Sulistyo.
Menurutnya, sejumlah negara yang penduduk muslimnya minoritas justru sangat serius mengembangkan layanan halal. “Jepang, Korea Selatan, hingga Bali sebagai destinasi wisata telah menyediakan berbagai fasilitas ramah muslim karena melihat kebutuhan pasar yang besar,” ujarnya.
Meski memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam industri halal. “Kita memiliki potensi yang sangat besar, tetapi saat ini masih lebih dominan sebagai konsumen dibandingkan produsen produk halal,” katanya.
Sulistyo berharap, Indonesia dapat memanfaatkan peluang ekonomi halal secara lebih optimal pada masa mendatang. “Dengan jumlah penduduk muslim yang besar, sektor halal seharusnya menjadi kekuatan ekonomi yang mampu memberikan nilai tambah dan daya saing bagi bangsa Indonesia,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....