Bahasa Daerah Tetap Penting di tengah Perubahan Zaman

  • 22 Sep 2026 17:03 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Bahasa menjadi salah satu alat komunikasi paling universal yang digunakan manusia untuk berinteraksi. Berdasarkan data Ethnologue, terdapat sekitar 7.170 bahasa yang tersebar di 242 negara di dunia. Keberagaman tersebut menunjukkan betapa pentingnya bahasa sebagai bagian dari identitas dan kebudayaan masyarakat.

Di Indonesia, penggunaan Bahasa Indonesia menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Namun, di tengah perkembangan zaman dan semakin terbukanya akses terhadap bahasa asing, penggunaan bahasa daerah menghadapi tantangan. Generasi muda semakin jarang menggunakan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari.

Penulis Buku Muatan Lokal Bahasa Kutai, Sulaiman, mengatakan mempelajari bahasa asing tetap penting untuk memperluas wawasan dan kemampuan berkomunikasi. Namun, hal tersebut tidak seharusnya membuat seseorang melupakan Bahasa Indonesia maupun bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya.

Ia mengingatkan pentingnya kemampuan memahami bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, setidaknya masyarakat perlu mengenali dan memahami bahasa yang digunakan di lingkungan tempat tinggalnya.

“Jangan lupa, ketika semisal kita tersesat lalu diajak berbicara menggunakan bahasa daerah, paling tidak kita mengerti dan dapat menjawab,” ucap Sulaiman, dikutip Selasa 22 September 2026.

Sulaiman juga mengingatkan generasi muda agar tidak hanya berorientasi menguasai bahasa asing, tetapi tetap mengenal bahasa sendiri. Menurutnya, mempelajari berbagai bahasa merupakan hal positif, tetapi Bahasa Indonesia dan bahasa daerah tetap perlu dipelajari serta dilestarikan.

Upaya pelestarian bahasa daerah, kata dia, dapat dilakukan dengan mengenalkannya kembali kepada generasi muda melalui pendidikan. Salah satunya dengan mengajarkan bahasa daerah di sekolah, termasuk Bahasa Kutai sebagai bagian dari muatan lokal.

“Sekarang ini penggunaan bahasa daerah seperti Bahasa Kutai juga mengikuti perubahan zaman, tidak mungkin harus kembali ke masa lalu. Jadi, intinya, untuk melestarikan bahasa daerah tidak harus kita kembali ke zaman bahari (dahulu),” ucapnya saat menghadiri SPADA (Selamat Pagi Teman Pro 2) yang disiarkan RRI Pro 2 Samarinda.

Menurutnya, bahasa daerah dapat terus hidup apabila mampu beradaptasi dengan perkembangan masyarakat. Pelestarian bukan berarti membatasi bahasa pada bentuk penggunaannya di masa lalu, melainkan memastikan bahasa tersebut tetap dikenal, dipahami, dan digunakan oleh generasi berikutnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....