Wastra Kaltim Didorong Naik Kelas lewat Industri Fesyen
- 14 Sep 2026 18:52 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menjaga warisan leluhur. Kekayaan budaya perlu diberdayakan dan dikembangkan agar tetap hidup sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Salah satu sektor yang dinilai mampu mengembangkan kekayaan tersebut adalah industri fesyen berbasis kearifan lokal dan wastra Nusantara. Pendekatan ini dinilai dapat membuka peluang ekonomi sekaligus memperkuat identitas budaya daerah.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIV Kalimantan Timur, Lestari, mengatakan pengembangan fesyen berbasis budaya dapat menjadi salah satu cara memperkuat ekonomi budaya di daerah. Menurutnya, budaya tidak semestinya hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber kesejahteraan masyarakat di masa depan.

“Fashion menjadi salah satu bukti nyata bagaimana kekayaan budaya kita dapat diolah, dikembangkan, dan memberi nilai tambah yang nyata,” ujar Lestari dalam Talkshow Fashion dan Wastra Outlook di Gedung Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Timur, Minggu 13 September 2026 melansir rilis Pemprov Kaltim.
Lestari menilai Kalimantan Timur memiliki peluang besar menjadi ruang pertemuan berbagai kekayaan budaya dari seluruh Indonesia. Keragaman tersebut dapat melahirkan inovasi fesyen dengan karakter khas yang memadukan berbagai unsur budaya Nusantara.
“Ke depan, Kalimantan Timur tak hanya akan menjadi rumah bagi berbagai budaya dari seluruh Nusantara, tetapi juga tempat lahirnya budaya fesyen baru, hasil pertemuan dan perpaduan kekayaan budaya dari seluruh Indonesia yang berkumpul di sini,” katanya.
Menurut Lestari, Kaltim memiliki kekayaan wastra yang beragam, baik dari sisi motif maupun teknologi tradisional pembuatannya. Kekayaan tersebut dapat menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan karya fesyen yang memiliki nilai estetika sekaligus berpeluang menembus pasar yang lebih luas, termasuk internasional.
Ketua BPP FASCREEYA Indonesia, Anas Maghfur, mengatakan pengembangan wastra membutuhkan kolaborasi antara pelaku budaya, desainer, generasi muda, dan pelaku industri. “Wastra bukan sekadar peninggalan masa lalu dan merupakan sumber inspirasi, sumber kreativitas, sekaligus peluang industri yang nyata,” kata Anas.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang berbagi wawasan dan memperkuat kolaborasi untuk membangun ekosistem fesyen berbasis budaya di Kalimantan Timur. Talkshow tersebut turut menghadirkan Lenny Agustin, Fashion Designer sekaligus National Chairwoman Indonesian Fashion Chamber (IFC), serta Phillip Iswardono, Fashion Designer dan National Vice Chair Division Organization IFC.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....