Generasi Muda Jadi Kunci Pelestarian Budaya Lokal

  • 21 Agt 2026 07:10 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Pelestarian budaya lokal menghadapi tantangan di tengah derasnya arus globalisasi. Generasi muda kini mudah mengakses berbagai budaya asing melalui film, musik, media sosial, hingga makanan. Kondisi ini membuat upaya menjaga budaya lokal perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan anak muda.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda, Barlin Hady Kesuma, mengatakan gempuran budaya asing menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pelestarian budaya. “Tantangan kita ini luar biasa untuk melestarikan budaya kita. Yang pertama, gempuran budaya asing itu sangat masif sekarang,” ujar Barlin saat mengisi program Talkshow Pro 4, di kutip 21 Agustus 2026.

Menurut Barlin, budaya lokal sebenarnya memiliki kekayaan yang tidak kalah menarik dibandingkan budaya dari luar. Ia mencontohkan berbagai makanan khas Samarinda seperti amplang, amparan tatak, nasi kuning, dan bubur peca yang perlu terus dikenalkan kepada generasi muda.

“Budaya asli kita itu tidak kalah sebenarnya. Jadi ini PR, bagaimana kita mencintai budaya-budaya kita, film-film kita, musik-musik kita, termasuk makanan asli,” katanya.

Selain pengaruh budaya asing, tantangan lain adalah munculnya anggapan bahwa budaya lokal identik dengan sesuatu yang kuno. Barlin menilai pandangan tersebut perlu diubah karena budaya bukan sekadar tradisi masa lalu, melainkan bagian dari identitas masyarakat yang harus terus dijaga dan dikenalkan kepada generasi berikutnya.

Barlin juga mengingatkan bahwa budaya Indonesia tidak hanya berupa kesenian, makanan, bahasa, atau pakaian daerah. Nilai gotong royong juga merupakan bagian dari budaya yang harus dipertahankan. Ia mencontohkan kebiasaan masyarakat dahulu yang saling membantu ketika ada kegiatan desa atau acara pernikahan.

“Budaya kita itu dulu gotong royong. Setiap kali ada acara desa, acara nikahan, kawinan, seluruh desa itu datang membantu, berkontribusi,” ucapnya.

Karena itu, generasi muda perlu kembali menyadari bahwa budaya lokal merupakan bagian dari jati diri bangsa. Menurut Barlin, teknologi dan media sosial seharusnya tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan budaya daerah dengan cara yang kreatif dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Barlin menegaskan generasi muda memiliki peran penting karena mereka merupakan penerus kepemimpinan bangsa. “Bangsa ini membutuhkan adik-adik semua, generasi muda, untuk mengambil estafet kepemimpinan bangsa kita,” katanya.

Ia mengingatkan agar waktu tidak hanya dihabiskan untuk bermain telepon seluler dan mengikuti tren media sosial, tetapi juga digunakan untuk belajar dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan. Momentum kemerdekaan di bulan Agustus, lanjut Barlin, menjadi pengingat pentingnya menjaga persatuan dalam keberagaman.

Perbedaan budaya, bahasa, keluarga maupun latar belakang bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan yang harus dirawat bersama. “Kita boleh berbeda, tetapi kita harus ingat bahwa kita hidup di negara yang sama. Karena justru karena kita berbeda maka kita bersatu,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....