Buku Dwibahasa Dorong Literasi Anak di Kaltim
- 12 Agt 2026 17:07 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, SAMARINDA - Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur terus mendorong peningkatan budaya literasi anak melalui buku cerita dwibahasa. Buku tersebut memadukan bahasa daerah dan bahasa Indonesia, sebagai sarana mengenalkan kembali bahasa daerah kepada generasi muda.
Buku cerita anak dwibahasa yang diterbitkan Balai Bahasa Kaltim merupakan hasil penerjemahan cerita yang melibatkan penulis dari berbagai daerah. Sejak 2023, sejumlah bahasa daerah telah diangkat dalam buku di antaranya bahasa Berau, Tidung, Bulungan, Dayak Kenyah, Paser, Kutai hingga bahasa Benuaq.
Menurut Balai Bahasa Kaltim, penerbitan buku tersebut sejak awal diarahkan untuk memperkuat budaya literasi sekaligus membantu menjaga keberlangsungan bahasa daerah. Buku juga dirancang sebagai bacaan pendamping bagi anak-anak di sekolah, khususnya pada jenjang sekolah dasar hingga kelas 7 SMP.
Anggota Tim Kerja Penerjemahan Balai Bahasa Kaltim, Merry Debby Aritonang mengatakan buku yang telah diterbitkan perlu dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat. Sebab, buku tidak akan memberikan dampak maksimal apabila hanya menjadi koleksi tanpa dibaca.
“Tujuannya memang buku itu harus benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat. Sebagai upaya untuk melestarikan bahasa daerah dan meningkatkan pemahaman anak tentang bahasa Indonesia,” kata Merry, dikutip Rabu, 12 Agustus 2026.
Untuk menarik perhatian anak, buku tidak hanya mengandalkan tulisan. Ilustrasi menjadi bagian penting dalam penyajiannya. Balai Bahasa Kaltim bahkan melakukan seleksi ilustrator dari berbagai daerah di Indonesia, agar cerita yang disajikan semakin menarik bagi pembaca anak.
Pemanfaatan buku juga diperluas melalui format digital. Buku-buku tersebut diunggah ke laman Balai Bahasa Provinsi Kaltim sehingga dapat diakses masyarakat dari berbagai daerah. Pembaca dapat mengunduh buku secara gratis dengan mengisi formulir yang disediakan.
Kehadiran buku digital dinilai menjadi alternatif bagi pembaca. Data unduhan yang dipantau Balai Bahasa juga menunjukkan buku tersebut terus dimanfaatkan, termasuk oleh siswa, guru, mahasiswa dan masyarakat dari luar Kalimantan.
Selain dibaca secara mandiri, buku dapat dimanfaatkan dalam berbagai aktivitas seperti membaca nyaring, diskusi, pendampingan belajar, hingga lomba mendongeng dan mengulas buku. Buku cerita dwibahasa diharapkan tidak berhenti sebagai produk penerbitan, tetapi menjadi bagian dari kegiatan literasi anak sehari-hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....