Tapih Bakurung: Simbol Identitas dan Perekat Tradisi Urang Banjar di Samarinda

  • 30 Mei 2026 21:41 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Keberadaan komunitas suku Banjar di perantauan Kota Samarinda hingga kini masih memegang teguh tradisi leluhur sebagai identitas diri. Salah satu kebiasaan kolektif yang terus dirawat di tengah modernisasi kota adalah penggunaan tapih bakurung atau kain sarung yang dijahit menyatu, baik untuk keperluan ibadah maupun beraktivitas di dalam rumah.

Bagi urang Banjar yang menetap di Samarinda, tapih bakurung bukan sekadar selembar kain penutup aurat, melainkan simbol kenyamanan dan kesederhanaan. Tradisi berkelumbun atau berselimut menggunakan sarung saat cuaca dingin hingga kini masih menjadi cara andalan masyarakat untuk menghangatkan diri di malam hari.

Pada masa lampau di tanah kelahiran, kain sarung kurung ini memiliki multi-fungsi yang sangat melekat dalam siklus kehidupan masyarakat Banjar. Selain dipakai kaum perempuan saat mandi di tepian sungai (batang), sarung berjahit ini kerap dialihfungsikan menjadi ayunan bayi, media permainan anak-anak seperti bermain ninja-ninjaan, hingga kain pelindung bagi anak laki-laki pasca-khitan.

"Kalau perempuan zaman dulu itu, apalagi waktu mandi di batang, pasti memakai tapih bakurung. Kalau malam, sarung yang longgar dan sudah banyak robekan kecil biasanya justru paling nyaman dipakai untuk bersantai," ujar Acil Ewwi dalam Pantas Banjar pada Jumat, 8 Mei 2026.

Seiring berjalannya waktu dan berpindahnya pola pemukiman warga dari pinggiran sungai ke wilayah perkotaan Samarinda, fungsi tapih bakurung kini mulai bergeser. Kain sarung kurung sekarang lebih identik dengan kaum pria untuk ibadah lima waktu ke masjid, sementara generasi muda saat ini cenderung lebih memilih celana pendek praktis yang dianggap tidak merepotkan.

Kendati fungsi sosialnya menyusut, nilai emosional dan historis dari selembar sarung tetap tidak tergantikan bagi sebagian perantau. Kain sarung tua peninggalan orang tua atau leluhur sering kali dirawat layaknya barang pusaka yang bernilai tinggi sebagai pengingat akan asal-usul tanah banua.

"Di rumah saya ada tujuh kain sarung warisan dari ayah dan datu (kakek buyut) yang sengaja saya simpan dengan baik. Salah satunya adalah tenun asli bertekstur tebal yang kalau dinilai sekarang harganya bisa mencapai jutaan rupiah," ujar Julak Amay, salah seorang pendengar bersuku Banjar yang tinggal di Samarinda melalui sambungan interaktif.

Merawat tradisi tapih bakurung di tanah perantauan diakui menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam mengajarkan filosofi kesopanan kepada anak-anak usia dini. Melalui kebiasaan memakai sarung yang rapi, masyarakat suku Banjar di Samarinda berharap nilai-nilai moral, akhlak, dan warisan budaya nusantara ini tidak luntur ditelan zaman.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....