Warga Minang Samarinda Jaga Tradisi Marandang jelang Lebaran
- 16 Mar 2026 19:08 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Masyarakat Minangkabau di perantauan, khususnya di Kota Samarinda, mulai bersiap menyambut Hari Raya Idulfitri 1447 H dengan menghidupkan kembali tradisi Marandang. Tradisi memasak rendang secara bersama-sama ini bukan sekadar aktivitas dapur, melainkan momentum mempererat silaturahmi bagi warga perantau yang rindu akan kampung halaman.
Dalam siaran Pantas Minang di RRI Samarinda pada Sabtu, 14 Maret 2026, Uni Aziar, Uni Yet dan Uni Nel selaku narasumber di studio membahas betapa sakralnya kehadiran rendang di meja makan saat lebaran. Rendang bukan sekadar masakan, melainkan simbol kehormatan dalam menjamu tamu yang datang bersilaturahmi.
"Tradisi merandang di Minangkabau itu biasanya dilakukan mendekati puasa atau saat mau lebaran. Ini adalah proses memasak yang butuh kesabaran, menggunakan daging sapi atau kerbau yang dicampur dengan santan dan bumbu rempah-rempah yang lengkap," ujar Uni Aziar saat menjelaskan esensi memasak rendang.
Uni Nel, narasumber lainnya di studio, menambahkan waktu adalah elemen kunci dalam menghasilkan rendang yang otentik. Proses memasak bisa memakan waktu hingga lima jam untuk memastikan bumbu meresap sempurna hingga ke dalam serat daging, yang juga berfungsi sebagai pengawet alami.
"Memasaknya lama, bisa tiga sampai lima jam sampai bumbunya benar-benar meresap. Ada yang bumbunya ditumis dulu, ada juga yang bumbunya dicampur langsung dengan daging atau diungkep dulu supaya air dagingnya keluar baru kemudian dimasukkan santan," kata Uni Nel mengenai teknik memasak tradisional tersebut.
Selain teknik memasak, pemilihan bagian daging juga menjadi perhatian utama bagi ibu-ibu atau Bundo Kanduang di perantauan. Memilih bagian daging yang tepat akan menentukan tekstur akhir rendang agar tidak mudah hancur namun tetap empuk saat disantap.
"Kalau mau hasil yang paling bagus atau premium, bagian paha bawah sapi itu yang paling rancak (bagus). Itu bagian yang paling mantap karena kalau dipipihkan atau dimasak lama, dia tetap empuk dan teksturnya bagus sekali," kata Uni Aziar memberikan tips kepada para pendengar.
Bagi warga Minang di Samarinda, marandang juga menjadi momen untuk mengenang sejarah leluhur. Dahulu, rendang merupakan bekal utama para perantau yang menempuh perjalanan berbulan-bulan menggunakan kapal laut karena sifatnya yang sangat awet.
Melalui tradisi ini, para narasumber di studio berharap generasi muda Minang di perantauan tetap mengenal dan mencintai budayanya. Meskipun raga berada di tanah Borneo, cita rasa dan nilai-nilai luhur dari kuali rendang tetap harus diwariskan sebagai pengikat persaudaraan antar sesama perantau.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....