Mengapa Orang Saleh Tetap Menghadapi Banyak Ujian?

  • 18 Sep 2026 17:29 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Menjadi pribadi yang saleh bukan berarti seseorang terbebas dari berbagai kesulitan dalam kehidupan. Ujian tetap menjadi bagian dari perjalanan keimanan sehingga umat Islam perlu mengubah cara pandang terhadap persoalan yang dihadapi.

Ustaz Mustamin Fattah mengatakan, orang yang baik bukanlah mereka yang tidak pernah menghadapi ujian, melainkan mereka yang berusaha tetap berada di jalan Allah Swt. ketika menghadapi berbagai persoalan.

“Orang baik bukan orang yang tidak pernah diuji. Orang yang baik itu sesungguhnya adalah orang yang ketika diuji, berusaha tetap berada di jalan Allah Subhanahu wa ta'ala,” kata Ustaz Mustamin kepada RRI.

Menurutnya, pertanyaan mengapa seseorang yang rajin beribadah masih mengalami sakit, kesulitan, atau ketidakadilan merupakan bagian dari proses manusia memahami hubungan antara iman, kesalehan, dan kehidupan. Dalam Islam, ujian tidak selalu menunjukkan seseorang sedang mendapat hukuman.

Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-'Ankabut ayat 2, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?” Ayat tersebut menunjukkan bahwa ujian merupakan bagian dari perjalanan seseorang dalam mempertahankan dan menguatkan keimanannya.

Perjalanan hidup para nabi juga menunjukkan bahwa kesalehan tidak identik dengan kehidupan yang selalu mudah. Nabi Ibrahim a.s. menghadapi berbagai ujian, Nabi Ayyub a.s. mengalami penderitaan panjang, Nabi Yusuf a.s. menghadapi pengkhianatan dan fitnah, sedangkan Nabi Muhammad saw. menghadapi kehilangan orang-orang yang dicintai serta berbagai tekanan dalam menjalankan dakwah.

“Jangan sampai kita menganggap kesalehan adalah transaksi. Ketika saya baik, maka Allah wajib membuat hidup saya baik. Tidak demikian,” ujar Ustaz Mustamin dikutip Jumat 18 September 2026.

Ia menjelaskan, ibadah tidak semestinya dipahami sebagai pertukaran untuk memperoleh kehidupan dunia yang bebas dari masalah. Ibadah merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus membentuk sikap dalam menghadapi berbagai keadaan.

Ustaz Mustamin juga mengingatkan umat agar tidak terburu-buru menganggap setiap musibah sebagai hukuman akibat dosa seseorang. Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 155 yang menjelaskan bahwa manusia akan diuji dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Menurutnya, ujian dapat mengandung berbagai hikmah, seperti menjadi peringatan, penghapus dosa, pendidikan jiwa, maupun sarana meningkatkan derajat seseorang.

Ia menekankan, kesalehan justru memberikan bekal bagi seseorang untuk menghadapi kehidupan, baik ketika berada dalam kesulitan maupun saat memperoleh kenikmatan.

“Kesalehan bukan jaminan kehidupan tanpa kesulitan, justru kesalehan adalah bekal untuk menghadapi kesulitan dengan cara-cara yang berbeda,” ucapnya.

Karena itu, umat Islam diajak untuk membangun sikap sabar ketika menghadapi kesulitan dan bersyukur ketika memperoleh kemudahan. Dengan cara pandang tersebut, ujian tidak hanya dilihat sebagai beban, tetapi juga sebagai bagian dari proses pembentukan dan penguatan keimanan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....