Nostalgia Permainan Tradisional, Bahagia Masa Kecil Sederhana

  • 17 Sep 2026 19:48 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Sore bagi anak-anak generasi 1990-an hingga awal 2000-an punya cerita sendiri. Begitu matahari mulai condong, halaman rumah, gang, tanah lapang, hingga teras menjadi tempat berkumpul. Tidak ada notifikasi, gim daring, atau layar ponsel yang harus diperiksa. Yang ada hanya suara teman memanggil dari depan rumah dan satu pertanyaan sederhana, “Mau main apa?”

Benda-benda yang kini mungkin dianggap tidak berguna justru bisa berubah menjadi mainan yang menyenangkan. Tutup botol kaca dari minuman bersoda atau kecap, misalnya, dikumpulkan untuk dijadikan gundu atau permainan tos. Tutup botol itu dipipihkan menggunakan batu atau palu, kemudian dimainkan bersama teman. Kreativitas muncul bukan karena banyaknya pilihan, tetapi karena keterbatasan membuat anak belajar menciptakan permainan sendiri.

Dalam rilis resmi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, bermain disebut sebagai bagian penting dalam perkembangan anak. Prinsip pendidikan Ki Hajar Dewantara menempatkan bermain sebagai kodrat anak untuk mengembangkan wiraga, wirama, dan wirasa, yang berkaitan dengan perkembangan fisik, kognitif, serta emosi. Bermain dengan lingkungan sekitar memberi kesempatan kepada anak untuk belajar melalui pengalaman langsung.

Pelepah pisang pun bisa berubah menjadi mobil-mobilan. Dengan bahan sederhana dan alat seadanya, anak-anak merakit mainan, mengujinya, lalu memperbaiki bagian yang kurang pas. Tidak ada buku petunjuk. Tidak ada tombol restart. Kalau mainannya rusak, solusinya adalah mencari cara agar bisa digunakan kembali.

Aktivitas semacam itu bukan sekadar mengisi waktu luang. Sejumlah penelitian mengenai permainan tradisional menunjukkan adanya manfaat terhadap perkembangan motorik dan keterampilan sosial anak. Permainan yang melibatkan gerak tubuh dapat melatih keseimbangan, koordinasi, dan ketangkasan. Sementara permainan bersama teman mengajarkan anak berkomunikasi, bernegosiasi, mengikuti aturan, hingga menerima kekalahan.

Ketika hujan turun, permainan pun tidak selalu berhenti. Kertas dari halaman buku tulis bisa dilipat menjadi kapal, pesawat, atau burung. Setelah selesai, hasil lipatan itu dibawa ke halaman dan dimainkan di genangan air. Sederhana, tetapi justru di situlah imajinasi bekerja. Satu lembar kertas bisa berubah menjadi banyak hal, bergantung pada bagaimana anak melihatnya.

Permainan tradisional juga menghadirkan sesuatu yang sulit diberikan oleh layar: perjumpaan langsung. Anak-anak belajar tertawa bersama, berdebat soal aturan, meminta maaf ketika berselisih, hingga berdamai setelah permainan selesai. Mereka belajar bahwa tidak semua permainan berakhir dengan kemenangan dan tidak semua keinginan harus terpenuhi.

Kini, masa itu telah berubah. Anak-anak tumbuh dengan pilihan hiburan yang jauh lebih beragam. Gawai menawarkan dunia yang luas hanya dalam genggaman. Namun, bagi mereka yang pernah tumbuh pada era 90-an dan awal 2000-an, kenangan tentang sore tanpa gawai tetap memiliki tempat tersendiri. Saat itu, kebahagiaan tidak membutuhkan banyak hal. Tutup botol, pelepah pisang, selembar kertas, dan teman bermain sudah cukup membuat sebuah sore terasa panjang sekaligus berharga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....