Ulama Ingatkan Bahaya Mengejar Pujian dan Kedudukan
- 14 Sep 2026 16:56 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Jakarta – Mengejar penghormatan, pujian, dan kedudukan di tengah manusia dapat menjadi ujian bagi hati. Hasad, kesombongan, cinta kedudukan, serta keinginan untuk selalu dihormati merupakan penyakit hati yang dapat merusak amal seseorang. Sebaliknya, orang yang berusaha merendahkan diri di hadapan Allah SWT justru berpeluang diangkat derajatnya oleh-Nya.
Dikutip dari kanal YouTube Nabawi TV, Senin 14 September 2026. Ustaz Habib Mahdi bin Abdurrahman Al Athos mengatakan para ulama dan habaib terdahulu tidak menjadikan popularitas dan kedudukan sebagai tujuan. Mereka tampil di hadapan umat karena tuntutan dakwah atau perintah guru. Bagi mereka, berada di barisan belakang dan jauh dari sorotan manusia justru lebih menenangkan.
Habib Mahdi mengatakan kisah para ulama salaf memberikan pelajaran penting bagi umat Islam masa kini. Ketika menghadapi fitnah, hasad, atau perlakuan buruk dari orang lain, seorang Muslim hendaknya bersabar dan tidak larut dalam emosi. Pada saat yang sama, setiap Muslim perlu terus membersihkan hati dari kesombongan serta keinginan mendapatkan penghormatan manusia.
Keteladanan tersebut tercermin dalam diri Al-Imam Al-Habib Ali bin Husein Al-Attas, salah seorang ulama yang sangat dihormati di Indonesia. Dalam berbagai majelis, para masyayikh juga sering menceritakan bagaimana Habib Ahmad bin Abdullah Al-Attas dan Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas saling memuliakan dan merendahkan diri. Mereka tidak berebut kedudukan, tetapi berlomba menunjukkan ketawadukan dan memberikan pelayanan kepada umat.
"Sikap inilah yang diwariskan kepada generasi setelah mereka. Habib Hasan bin Abdullah Asy-Syatiri pernah memberikan nasihat yang sangat berharga kepada murid-muridnya. Beliau menekankan pentingnya menjaga adab dalam majelis dan menghormati para ahli ilmu," kata Habib Mahdi. Menurutnya, nasihat tersebut menunjukkan bahwa adab dan akhlak menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang penuntut ilmu.
Para ulama terdahulu juga tidak hanya mendidik murid dengan ilmu pengetahuan. Mereka membentuk kepribadian melalui pendidikan yang menekankan kebersihan hati, kerendahan diri, kesabaran, dan keikhlasan. Pendidikan tersebut terkadang terasa berat bagi murid, tetapi diarahkan agar mereka tidak mudah terjebak oleh ego, pujian, maupun keinginan mengejar kedudukan.
"Di antara tokoh yang dikenal memiliki semangat luar biasa dalam menuntut ilmu adalah Habib Ali bin Husein Al-Attas. Beliau bukan sosok yang mencari maqam atau kedudukan spiritual. Justru karena keikhlasan dan kesungguhannya, Allah SWT mengangkat derajat beliau di tengah umat," ujar Habib Mahdi. Keteladanan tersebut menjadi pengingat bahwa kemuliaan tidak lahir dari popularitas, jabatan, atau pujian manusia, melainkan dari ketakwaan, keikhlasan, dan akhlak yang mulia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....