Perumda Batiwakkal Respons Isu Karhutla dan Kelangkaan BBM

  • 08 Sep 2026 07:00 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Berau- Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Batiwakkal Kabupaten Berau memastikan pelayanan air bersih kepada masyarakat tetap berjalan optimal di tengah tantangan musim kemarau, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta isu kelangkaan bahan bakar minyak (BBM).

Dikutip dari laman beraukab.go.id Senin, 7 September 2026. Hal tersebut disampaikan Direktur Perumda Air Minum Batiwakkal Kabupaten Berau, Saipul Rahman, saat menerima kunjungan Tim Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Berau, Kamis 3 September 2026. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya Diskominfo dalam memantau dan mengklarifikasi berbagai isu yang berkembang di masyarakat.

Saipul menjelaskan, musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino membawa dua tantangan utama bagi perusahaan, yakni intrusi air laut dan penurunan debit air sungai yang menjadi sumber air baku.

Menurutnya, kedua potensi tersebut telah diantisipasi sejak dini melalui koordinasi dan pembahasan bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengenai langkah mitigasi menghadapi kemarau panjang.

“Kami sudah melakukan berbagai persiapan sejak jauh hari. Potensi gangguan akibat musim kemarau telah menjadi perhatian utama dalam perencanaan operasional kami,” ujarnya.

Salah satu dampak yang mulai dirasakan terjadi di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Gurimbang. Intrusi air laut menyebabkan kadar total dissolved solids (TDS) pada air baku sempat mencapai sekitar 1.700 ppm, jauh di atas ambang kualitas air baku yang menjadi acuan, yakni 300 ppm.

Untuk menjaga kualitas produksi air, Perumda Batiwakkal melakukan pemantauan kualitas air secara intensif, bahkan setiap jam. Ketika tingkat salinitas meningkat, operasional IPA Gurimbang yang biasanya berjalan selama 24 jam sempat dikurangi menjadi 12 jam. Setelah kondisi membaik, operasional kembali normal dengan pengawasan yang tetap diperketat.

“Jika indikator menunjukkan peningkatan TDS, kami langsung menghentikan sementara proses produksi. Langkah ini penting untuk melindungi peralatan sekaligus memastikan air yang didistribusikan tetap memenuhi standar kualitas,” kata Saipul.

Kondisi serupa juga mulai terdeteksi di wilayah Semurut. Meski demikian, ia memastikan pelayanan kepada pelanggan tetap berjalan karena penghentian operasional hanya dilakukan sementara saat kadar salinitas meningkat. Sebagai langkah antisipasi, masyarakat juga telah diimbau menyiapkan tandon atau penampungan air di rumah masing-masing.

Selain itu, Perumda Batiwakkal terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, instansi teknis, Badan Usaha Berbasis Daerah (BUBD), TNI, Polri, serta berbagai pihak terkait untuk memastikan ketersediaan air bersih, termasuk dukungan distribusi ke wilayah yang mengalami kekeringan.

Menanggapi isu kelangkaan BBM yang terjadi di sejumlah daerah, Saipul memastikan operasional pelayanan air minum tidak mengalami gangguan berarti. Perusahaan telah menyiapkan stok solar untuk kebutuhan operasional dan genset, sehingga distribusi air tetap dapat berlangsung normal.

“Kami memiliki cadangan solar yang dibeli dengan harga industri untuk mendukung operasional dan kebutuhan genset. Tantangan lebih banyak dirasakan kendaraan operasional yang menggunakan jenis BBM lain karena harus mengantre di SPBU seperti masyarakat pada umumnya,” katanya.

Di tengah kondisi musim kemarau, Saipul juga mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan air. Ia mengungkapkan bahwa tingkat konsumsi air pelanggan di Berau tergolong tinggi, yakni antara 32 hingga 35 meter kubik per pelanggan setiap bulan. Angka tersebut jauh di atas rata-rata konsumsi di sejumlah daerah lain yang berada pada kisaran 18 hingga 21 meter kubik per bulan.

Karena itu, masyarakat diminta mengurangi penggunaan air untuk kebutuhan yang tidak mendesak agar pasokan tetap terjaga, terutama saat produksi menghadapi tekanan akibat kekeringan dan intrusi air laut.

“Kami khawatir jika penggunaan air berlebihan terus terjadi, pelanggan yang berada di ujung jaringan distribusi dapat terdampak dan tidak memperoleh pasokan air secara optimal ketika produksi menurun,” ujarnya.

Sebagai bagian dari peningkatan pelayanan, Perumda Batiwakkal saat ini juga tengah melakukan uprating atau peningkatan kapasitas di IPA Raja Alam. Proyek tersebut ditargetkan mampu meningkatkan kapasitas produksi air dalam waktu sekitar satu bulan tanpa mengganggu pelayanan kepada pelanggan.

Saipul menegaskan bahwa Perumda Batiwakkal berkomitmen menjaga tiga aspek utama pelayanan, yakni kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Menurutnya, air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus tetap tersedia dalam berbagai kondisi.

“Melalui penerapan manajemen risiko dan langkah-langkah mitigasi yang terukur, kami berupaya menjaga pelayanan tetap berjalan optimal serta siap menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat memengaruhi operasional,” ucapnya.

Selain fokus pada pelayanan, Perumda Batiwakkal juga menindaklanjuti arahan Bupati Berau terkait kesehatan dan keselamatan kerja di tengah potensi memburuknya kualitas udara akibat karhutla. Seluruh pegawai diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan dan memperbanyak konsumsi air minum guna menjaga kondisi kesehatan.

“Alhamdulillah hingga saat ini tidak ada kendala berarti terkait kualitas, kuantitas, maupun kontinuitas pelayanan. Kami akan terus berupaya memberikan layanan terbaik bagi masyarakat Berau,” kata Saipul.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....