Mengapa Rasulullah Disebut Nikmat Terbesar dari Allah

  • 07 Sep 2026 16:59 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Jakarta – Segala puji hanya milik Allah SWT yang telah melimpahkan berbagai nikmat, hidayah, taufik, dan kasih sayang kepada seluruh makhluk-Nya. Begitu banyak karunia yang diberikan Allah hingga manusia tidak akan mampu menghitungnya. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah An-Nahl ayat 18, “Wa in ta'uddu ni'matallahi la tuhsuha”, yang berarti, “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”

Dikutip dari kanal YouTube Nabawi TV, Jumat 4 September 2026 Ustaz Habib Ahmad Mujtaba bin Shahab menjelaskan bahwa setiap nikmat yang diterima manusia sesungguhnya menyimpan begitu banyak karunia lain di dalamnya. Karena itu, manusia tidak mungkin mampu menghitung seluruh nikmat Allah SWT. Ia juga menjelaskan pandangan ulama bahwa salah satu bentuk nikmat terbesar yang dianugerahkan Allah kepada umat manusia adalah diutusnya Nabi Muhammad SAW.

Dalam penjelasannya, Habib Ahmad menyebut Rasulullah SAW memiliki sejumlah nama dan gelar mulia. Salah satunya adalah Nikmatullah, yang bermakna nikmat Allah. Menurutnya, sebagian ulama tafsir mengaitkan istilah “nikmat Allah” dalam sejumlah ayat Al-Qur'an dengan keberadaan Rasulullah SAW sebagai anugerah besar bagi umat manusia.

Salah satu ayat yang dibahas adalah firman Allah SWT, “Ya'rifuna ni'matallahi tsumma yunkirunaha”, yang berarti, “Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya.” Sebagian ulama tafsir memahami nikmat dalam ayat tersebut sebagai Rasulullah SAW. Mereka mengenal kejujuran, akhlak, dan kemuliaan beliau, tetapi tetap mengingkari kerasulan Nabi Muhammad SAW.

Habib Ahmad kemudian mengutip pemahaman Sahl bin Abdillah At-Tustari yang dinukil Al-Qadhi Iyadh dalam kitab Asy-Syifa. Menurut pemahaman tersebut, apabila “nikmat Allah” dikaitkan dengan Rasulullah SAW, maka manusia juga tidak akan mampu menghitung seluruh kemuliaan dan keutamaan beliau. Berbagai syair, qasidah, dan kitab yang ditulis para ulama untuk menggambarkan keagungan Rasulullah pada akhirnya tetap hanya menggambarkan sebagian kecil dari kemuliaan beliau.

“Para ulama dan para pecinta Rasulullah sepanjang zaman telah berusaha menggambarkan kemuliaan beliau melalui syair, qasidah, dan kitab-kitab pujian. Namun, semuanya sepakat bahwa apa yang mereka ungkapkan hanyalah sebagian kecil dari hakikat Rasulullah SAW,” ujar Habib Ahmad.

Ia juga menyampaikan kisah Uwais Al-Qarani yang disebut pernah memberikan nasihat kepada Sayyidina Umar bin Khattab dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengenai luasnya kemuliaan Rasulullah SAW. Dalam kisah tersebut, Uwais menggambarkan bahwa pengetahuan manusia mengenai Rasulullah belum mampu menjangkau hakikat kemuliaan beliau secara keseluruhan. Habib Ahmad kemudian mengaitkannya dengan syair Imam Al-Bushiri dalam Hamziyyah, yang menggambarkan pengetahuan manusia tentang Rasulullah seperti melihat pantulan bintang di permukaan air: tampak dekat, tetapi hakikat bintang berada jauh dan tinggi di langit.

Menurutnya, berbagai kisah, sifat, akhlak, dan pujian terhadap Nabi Muhammad SAW yang dikenal manusia merupakan bagian dari gambaran kemuliaan beliau. Sementara itu, hakikat kedudukan Rasulullah SAW secara sempurna berada di luar kemampuan manusia untuk menjangkaunya. Pemahaman tersebut sekaligus menjadi ajakan bagi umat Islam untuk terus mengenal, mencintai, dan meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....