Syukur kepada Allah Dapat Menjaga Hati dari Keinginan Berlebihan
- 02 Sep 2026 07:20 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Berkurangnya keberkahan dalam kehidupan sering kali membuat keinginan manusia semakin sulit dikendalikan. Berbagai hal yang sebenarnya sudah dimiliki belum tentu memberikan manfaat. Bahkan, semakin banyak sesuatu yang dikumpulkan, semakin banyak pula keinginan baru yang muncul.
Sebaliknya, keberkahan dapat terlihat ketika seseorang mampu memandang apa yang dimilikinya berdasarkan manfaat dan kebutuhan, bukan semata-mata keinginan. Hal itu disampaikan Ustaz Adi Hidayat dalam kanal youtube pribadinya.
Menurutnya, salah satu tanda hati mulai belajar bersyukur kepada Allah SWT adalah kemampuan seseorang untuk melihat setiap nikmat sebagai pemberian dari-Nya, seperti dikutip dari tayangan YouTube Adi Hidayat Official, Selasa 1 September 2026.
Bersyukur kepada Pemberi, Bukan Hanya kepada Pemberian
Salah satu latihan untuk meningkatkan rasa syukur adalah mengubah cara pandang terhadap apa yang diterima.
Ketika mendapatkan pakaian baru, misalnya, seseorang tidak hanya merasa senang karena memiliki pakaian tersebut, tetapi juga mengarahkan rasa syukurnya kepada Allah SWT sebagai Zat yang memberikan nikmat.
Hal yang sama berlaku ketika mendapatkan kendaraan, rumah, pekerjaan, makanan, kesehatan, atau berbagai kenikmatan lainnya.
Jika rasa syukur hanya berhenti pada benda, manusia dapat terjebak dalam kecintaan berlebihan kepada dunia. Namun, jika benda tersebut dipandang sebagai pemberian Allah SWT, seseorang dapat menikmati apa yang dimilikinya tanpa diperbudak oleh kepemilikan.
Ketika haus, seseorang membutuhkan minuman. Air putih dapat diminum dan disyukuri. Jika mendapatkan susu, ia juga dapat mensyukurinya. Selama sesuatu itu halal dan sesuai kebutuhan, semuanya dapat diterima dengan lapang.
Dalam kondisi tersebut, manfaat menjadi lebih dominan daripada keinginan yang berlebihan.
Keberkahan Membantu Mengendalikan Keinginan
Keberkahan tidak selalu berarti seseorang memiliki lebih banyak harta atau benda.
Keberkahan justru dapat terlihat dari kemampuan seseorang memperoleh manfaat dari apa yang dimilikinya.
Sebaliknya, seseorang dapat memiliki banyak hal tetapi tetap merasa kekurangan ketika rasa syukur semakin berkurang.
Rumah sudah dimiliki, tetapi masih menginginkan rumah yang lebih besar. Kendaraan sudah tersedia, tetapi masih menginginkan yang lebih mahal. Pakaian sudah banyak, tetapi tetap merasa perlu membeli yang baru.
Barang-barang yang dimiliki pun belum tentu digunakan secara maksimal. Keinginan akhirnya terus bertambah, sementara rasa cukup semakin berkurang.
Karena itu, salah satu latihan penting bagi seorang Muslim adalah membangun rasa syukur. Dengan bersyukur, hati belajar melihat nikmat bukan sekadar sebagai benda, tetapi sebagai pemberian Allah SWT.
Ridha Allah Menjadi Tujuan yang Lebih Tinggi
Dalam perjalanan spiritual seorang mukmin, salah satu tujuan yang sangat tinggi adalah memperoleh ridha Allah SWT.
Al-Qur'an menggambarkan hubungan antara ketenangan jiwa dan keridaan Allah SWT dalam Surah Al-Fajr ayat 27–30:
“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
Ayat tersebut menggambarkan jiwa yang tenang sebagai jiwa yang rida terhadap ketetapan Allah SWT dan mendapatkan keridaan-Nya.
Ketenangan sejati tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya fasilitas atau harta yang dimiliki. Ada orang yang memiliki banyak harta tetapi hidup dalam kegelisahan. Sebaliknya, ada pula orang yang hidup sederhana tetapi memiliki ketenangan hati.
Ketika seseorang membangun hubungan yang kuat dengan Allah SWT, dunia tidak lagi dipandang sebagai tujuan akhir. Pemberian Allah diterima dengan rasa syukur, sedangkan ketetapan-Nya dihadapi dengan kesabaran.
Menghubungkan Setiap Nikmat dengan Allah SWT
Salah satu latihan penting dalam membangun rasa syukur adalah membiasakan diri menghubungkan setiap nikmat dengan Allah SWT.
| Baca juga: Buah Tawakal dalam Kehidupan |
Ketika bangun tidur, misalnya, seseorang tidak hanya melihat dunia sebagai kumpulan benda dan manusia. Keluarga dapat dipandang sebagai amanah dari Allah SWT.
Melihat pasangan sebagai amanah membuat seseorang lebih berhati-hati dalam memperlakukannya. Begitu pula melihat anak sebagai titipan Allah SWT dapat mendorong orang tua untuk menjaga, mendidik, dan mengarahkannya kepada kebaikan.
Dengan cara pandang tersebut, kehidupan sehari-hari dapat menjadi ruang untuk mengingat Allah SWT.
Makan bukan sekadar mengisi perut. Bekerja bukan sekadar mencari penghasilan. Mengurus keluarga bukan sekadar rutinitas. Menuntut ilmu bukan sekadar mengejar gelar.
Semua aktivitas tersebut dapat menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT apabila dilakukan dengan niat dan cara yang benar.
Tidak Perlu Menunggu Hal Luar Biasa untuk Bersyukur
Manusia terkadang baru merasa kagum kepada Allah SWT ketika melihat sesuatu yang dianggap luar biasa. Padahal, tanda-tanda kebesaran Allah SWT dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Langit, bumi, makanan, tubuh manusia, keluarga, udara, dan kehidupan merupakan nikmat yang semestinya mengantarkan manusia untuk mengingat Sang Pencipta.
Orang yang hatinya hidup tidak selalu membutuhkan sesuatu yang luar biasa untuk mengingat Allah SWT. Hal-hal sederhana pun dapat menjadi pengingat akan kebesaran-Nya.
Dalam konteks tersebut, ulul albab merupakan golongan yang menggunakan akal dan hati untuk memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah SWT dalam kehidupan.
Ridha Allah Perlu Diwujudkan melalui Amal Saleh
Surga merupakan kenikmatan yang luar biasa. Namun, bagi seorang mukmin, tujuan utama tidak hanya memperoleh kenikmatan, tetapi juga mendapatkan ridha Allah SWT.
Keridaan Allah SWT tidak cukup diharapkan melalui angan-angan. Keinginan tersebut perlu diwujudkan melalui amal saleh.
| Baca juga: Tawakal yang Melahirkan Optimisme |
Karena itu, amal tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang Muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ada perbedaan antara beramal semata-mata karena mengejar hasil dan beramal dengan kesadaran untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Beramal dengan Ihsan
Ketika seseorang beramal dengan kesadaran bahwa Allah SWT senantiasa melihatnya, ia berusaha menerapkan sifat ihsan.
Ia tidak beribadah hanya untuk mendapatkan pujian manusia. Ia juga tidak berbuat baik semata-mata agar disebut sebagai orang baik.
Amal dilakukan karena Allah SWT.
Orang yang memiliki sifat tersebut disebut muhsin, sedangkan bentuk jamaknya adalah muhsinin. Allah SWT mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.
Salah satu gambaran mengenai orang yang berbuat ihsan terdapat dalam QS. Ali 'Imran ayat 134. Ayat tersebut menggambarkan orang-orang yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, dan memaafkan manusia. Pada bagian akhir ayat, Allah SWT menyatakan kecintaan-Nya kepada orang-orang yang berbuat ihsan.
Memulai Latihan Syukur dari Hal Sederhana
Perubahan tidak harus dimulai dengan banyak target sekaligus. Salah satu latihan sederhana yang dapat dilakukan adalah meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT.
Ketika mendapatkan sesuatu, jangan berhenti pada rasa senang terhadap benda atau keadaan tersebut. Ingat pula siapa yang memberikan nikmat itu.
Ketika mendapatkan makanan, bersyukurlah kepada Pemberinya. Ketika mendapatkan pakaian, bersyukurlah kepada Pemberinya. Begitu pula ketika mendapatkan keluarga, pekerjaan, ilmu, kesehatan, atau kesempatan beribadah.
Jika latihan tersebut terus dilakukan, perlahan dunia dapat berada di tangan, bukan di hati.
Seseorang tetap dapat menikmati berbagai kenikmatan dunia, tetapi tidak menjadikannya sebagai pusat kehidupan.
Pada akhirnya, perjalanan seorang mukmin bukan sekadar mengumpulkan sebanyak mungkin kenikmatan. Tujuan yang lebih tinggi adalah menjadi hamba yang dicintai dan diridai Allah SWT.
Ketika hati berada dalam keadaan rida dan diridai, dunia tidak lagi menjadi pusat kehidupan. Dan ketika waktu untuk kembali kepada Allah SWT tiba, yang diharapkan bukan sekadar meninggalkan dunia dengan tenang, tetapi kembali kepada-Nya dalam keadaan mendapatkan keridaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....