Salat Bukan Sekadar Kewajiban, tetapi Jalan menuju Ketenangan dan Kebahagiaan

  • 02 Sep 2026 07:07 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Umat Islam diajak memaknai salat tidak sekadar sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai sarana membangun hubungan dengan Allah SWT dan menghadirkan ketenangan dalam kehidupan.

Pesan tersebut disampaikan dalam kajian keislaman yang dipandu oleh Ustaz Adi Hidayat. Dengan mengangkat pentingnya rasa syukur, ketenangan, dan kebahagiaan sebagai bagian dari kehidupan seorang Muslim.

Melansir kanal YouTube Adi Hidayat Official, rasa syukur memiliki peran penting dalam menghadirkan kebahagiaan. Manusia sering kali mengejar berbagai target kehidupan, seperti kesuksesan dalam pekerjaan, pendidikan, maupun karier. Namun, pencapaian tersebut belum tentu secara otomatis menghadirkan ketenangan dan kebahagiaan.

Dalam kajian tersebut, kebahagiaan dikaitkan dengan istilah falah, sedangkan kesuksesan dalam aktivitas tertentu disebut fauz. Seseorang dapat mencapai kesuksesan dalam karier atau pendidikan, tetapi belum tentu memperoleh ketenangan dalam kehidupannya.

Sebaliknya, seseorang yang belum mencapai seluruh target kehidupannya tetap dapat merasakan ketenangan dan kebahagiaan apabila mampu mensyukuri apa yang dimilikinya.

Salat sebagai Sarana Mendekatkan Diri kepada Allah

Konsep kesuksesan dan kebahagiaan tersebut kemudian dikaitkan dengan panggilan azan yang terdengar lima kali dalam sehari. Kalimat hayya 'alal falah menjadi pengingat bagi umat Islam untuk mendirikan salat sebagai salah satu jalan menuju keberhasilan dan kebahagiaan.

Salat juga dijelaskan sebagai wasilah atau sarana untuk menghubungkan manusia dengan Allah SWT. Melalui salat, seorang Muslim membangun hubungan dengan Allah sebagai tempat memohon pertolongan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Karena itu, salat tidak semestinya dilakukan hanya sebagai rutinitas untuk menggugurkan kewajiban. Salat perlu dihayati sebagai momentum untuk menghadirkan ketenangan dan memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.

Kajian tersebut menjelaskan bahwa salah satu manfaat yang dapat dirasakan dari salat adalah ketenangan. Jawaban atas doa mungkin tidak selalu datang secara langsung sesuai dengan harapan, tetapi ketenangan dapat menjadi bekal untuk menghadapi persoalan dengan lebih baik.

Ketenangan tersebut bahkan dapat mulai dibangun sejak seseorang mempersiapkan diri untuk salat, berwudu, kemudian berdiri menghadap Allah SWT.

Dengan kondisi jiwa yang lebih tenang, seseorang diharapkan memiliki kejernihan dalam berpikir sehingga dapat melihat persoalan secara lebih baik dan menemukan kemungkinan solusi.

Belajar dari Kisah Nabi Zakaria dan Nabi Ya'qub

Kajian tersebut juga mengambil pelajaran dari kisah Nabi Zakaria AS yang berdoa kepada Allah SWT untuk memperoleh keturunan. Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan, sedangkan kekuasaan Allah SWT tidak terbatas.

Manusia memiliki keterbatasan dalam penglihatan, pendengaran, maupun kemampuan berpikir. Karena itu, ketika menghadapi persoalan yang berada di luar kemampuan manusia, seorang Muslim dianjurkan untuk memohon pertolongan kepada Allah SWT.

Doa juga dianjurkan disampaikan dengan keyakinan dan penghayatan yang mendalam. Dalam kajian tersebut ditekankan pentingnya menghadirkan ketenangan ketika berdoa, termasuk saat jawaban atas doa belum diterima sesuai dengan yang diharapkan.

Salat kemudian menjadi ruang untuk menyampaikan berbagai persoalan kepada Allah SWT. Seperti pelajaran dari Nabi Ya'qub AS ketika menghadapi persoalan keluarganya, manusia juga dapat menjadikan salat dan doa sebagai sarana untuk mencurahkan kegelisahan serta memohon pertolongan Allah.

Dengan mencurahkan persoalan melalui doa dan salat, hati diharapkan menjadi lebih tenang meskipun masalah belum langsung terselesaikan.

Ketenangan tersebut penting karena dapat membantu seseorang menghadapi masalah dengan lebih jernih. Ketika hati tidak lagi dikuasai kegelisahan, seseorang dapat melihat persoalan dengan lebih baik dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan solusi.

Pentingnya Memahami Makna Bacaan Salat

Namun, kajian tersebut juga mengingatkan bahwa tidak setiap orang yang melaksanakan salat secara otomatis memperoleh seluruh manfaat tersebut. Salah satu faktor yang dapat memengaruhinya adalah kekhusyukan serta pemahaman terhadap bacaan dan gerakan dalam salat.

Secara fikih, salat yang dilaksanakan dengan memenuhi rukun dan ketentuannya dapat menggugurkan kewajiban. Namun, memahami makna, tujuan, dan hikmah di balik bacaan serta gerakan salat dapat memberikan dimensi penghayatan yang lebih mendalam.

Karena itu, umat Islam diajak tidak hanya memperhatikan aspek formal dalam pelaksanaan salat, tetapi juga berusaha memahami makna dan hikmah yang terkandung di dalamnya.

Salat yang dilakukan dengan kesadaran dan ketenangan diharapkan dapat memberikan dampak dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun hubungan sosial.

Dalam kehidupan rumah tangga, ketenangan menjadi salah satu fondasi penting. Kajian tersebut mengaitkan ketenangan dengan konsep sakinah, yang dapat menjadi dasar tumbuhnya kasih sayang dan kenyamanan dalam keluarga.

Dengan demikian, salat memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar aktivitas ritual. Salat dapat menjadi sarana membangun ketenangan, memperkuat hubungan dengan Allah SWT, memohon pertolongan, dan mengarahkan manusia menuju falah, yakni keberhasilan dan kebahagiaan.

Pesan utama kajian tersebut adalah agar umat Islam menjadikan setiap waktu salat sebagai kesempatan untuk sejenak meninggalkan berbagai persoalan dunia, menenangkan hati, dan kembali mengingat Allah SWT.

Ketika panggilan hayya 'alash-shalah dan hayya 'alal falah terdengar, umat Islam diingatkan bahwa salat bukan hanya kewajiban, tetapi juga menjadi salah satu jalan untuk meraih ketenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....