Cara Menjaga Pernikahan Tetap Sehat dan Harmonis
- 09 Jul 2026 13:35 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Hubungan antara pasangan dan keluarga besar merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kedekatan dengan orang tua menjadi nilai budaya yang positif karena keluarga sering menjadi sumber dukungan emosional. Namun, dalam hubungan yang semakin serius, batas antara peran sebagai anak dan peran sebagai pasangan perlu dipahami agar tidak menimbulkan konflik.
Banyak hubungan rumah tangga mengalami masalah bukan karena pasangan tidak saling mencintai, melainkan karena campur tangan pihak luar yang tidak dikelola dengan baik.
Seorang psikiater dan traumaterapis dari WellSpring Indonesia, Jiemi Ardian, menjelaskan salah satu persoalan yang sering muncul dalam praktiknya adalah konflik pasangan akibat keterlibatan orang tua yang berlebihan.
“Banyak kasus keluarga yang berakhir, yang bercerai, atau yang mengalami konflik besar karena satu hal ini, dan sebenarnya bisa dicegah sejak awal hubungan,” ujar Jiemi, dilansir dari laman youtube pribadinya, Kamis 9 Juli 2026.
Menurutnya, memahami batas peran dalam hubungan menjadi langkah penting sebelum seseorang memutuskan untuk menikah. Dalam budaya Indonesia, hubungan keluarga memang memiliki kedudukan yang kuat. Orang tua sering memberikan nasihat karena merasa memiliki pengalaman lebih banyak dan ingin melindungi anaknya. Namun, ketika seseorang sudah membangun hubungan serius, ia perlu memahami bahwa peran sebagai anak dan pasangan memiliki tanggung jawab yang berbeda.
“Kita tidak bisa bersikap seratus persen sebagai anak ketika kita sudah punya pasangan. Ketidakmampuan membedakan peran dapat membuat seseorang berada dalam konflik berkepanjangan,” katanya.
Salah satu contoh yang sering terjadi adalah ketika orang tua tidak menyukai pasangan anaknya karena alasan tertentu, seperti perbedaan latar belakang keluarga, budaya, atau pandangan hidup. Jika seseorang lebih memilih berperan sebagai anak, ia mungkin langsung mengikuti keinginan orang tua tanpa mempertimbangkan kondisi hubungan yang sedang dijalani.
Sebaliknya, jika ia berperan sebagai pasangan, ia akan berusaha menjaga hubungan dan membangun keputusan bersama. “Kita harus sadar bahwa prioritas tidak bisa semuanya diletakkan di posisi yang sama,” ucapnya.
Selain persoalan peran, masalah lain yang sering terjadi adalah seseorang lebih setia kepada individu dibandingkan nilai kehidupan yang diyakininya. Manusia dapat berubah, termasuk orang tua, pasangan, maupun diri sendiri. Oleh karena itu, keputusan besar dalam hidup sebaiknya tidak hanya didasarkan pada keinginan untuk menyenangkan seseorang, tetapi juga berdasarkan nilai dan prinsip yang dianggap benar.
“Setialah pada nilai yang ingin kamu perjuangkan, bukan hanya setia pada orang,” ujarnya.
Meski demikian, bukan berarti semua nasihat orang tua harus ditolak. Dalam beberapa kondisi, keluarga justru dapat memberikan pandangan yang objektif, terutama jika melihat adanya hubungan yang tidak sehat atau perilaku pasangan yang merugikan. Seseorang perlu mampu menilai situasi dengan bijaksana, bukan sekadar mengikuti keinginan pasangan atau orang tua.
“Orang tua tidak selalu benar, pasangan tidak selalu benar, dan diri kita juga tidak selalu benar. Hal terpenting adalah kemampuan untuk mempertimbangkan fakta dan nilai yang mendukung kehidupan jangka panjang,” katanya.
| Baca juga: Menyadari Barokah dalam Kehidupan |
Ketika seseorang sudah memiliki anak, tanggung jawabnya juga berubah. Ia bukan hanya seorang anak dari orang tuanya, tetapi sudah menjadi orang tua bagi generasi berikutnya. Keputusan mengenai pendidikan, pola asuh, dan arah perkembangan anak seharusnya menjadi tanggung jawab utama dirinya bersama pasangan.
“Kalau kamu sudah menjadi orang tua, ingatlah bahwa sekarang kamulah orang tuanya. Orang tua atau kakek-nenek tetap dapat memberikan dukungan, tetapi keputusan utama berada pada keluarga inti,” ucap Jiemi.
Menentukan batas yang sehat dengan orang tua bukan berarti melawan atau tidak menghormati mereka. Justru, kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan sendiri menunjukkan bahwa ia telah berkembang menjadi pribadi dewasa. Hubungan yang sehat membutuhkan komunikasi, penghargaan, dan keberanian untuk menyampaikan pendapat dengan cara yang baik. Menjaga keharmonisan keluarga bukan berarti selalu mengikuti semua keinginan orang lain, melainkan menemukan keseimbangan antara rasa hormat dan kemandirian.
Pada akhirnya, pernikahan membutuhkan komitmen dua orang yang siap membangun kehidupan bersama. Campur tangan orang tua dapat menjadi dukungan positif apabila berada dalam batas yang tepat, tetapi dapat menjadi masalah jika menghilangkan peran pasangan dalam mengambil keputusan. Dengan memahami prioritas, menjalankan peran secara tepat, dan berpegang pada nilai kehidupan yang sehat, pasangan dapat membangun hubungan yang lebih kuat serta menghadapi konflik keluarga dengan lebih dewasa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....