Mengapa 10 Muharram Disebut Lebaran Anak Yatim? Ini Penjelasannya

  • 02 Jul 2026 07:52 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Setiap tanggal 10 Muharram, masyarakat Indonesia kerap memperingatinya sebagai "Lebaran Anak Yatim". Pada momen ini, berbagai masjid, lembaga zakat, hingga komunitas menggelar santunan, makan bersama, dan kegiatan sosial untuk membahagiakan anak-anak yatim.

Tradisi tersebut telah berkembang secara turun-temurun di Indonesia sebagai bentuk kepedulian terhadap anak yatim yang bertepatan dengan Hari Asyura. Meski demikian, istilah Lebaran Anak Yatim bukanlah istilah yang berasal dari ajaran Islam maupun digunakan pada masa Rasulullah Saw.

Mengutip penjelasan Rumah Zakat, sebutan tersebut lahir sebagai tradisi masyarakat Indonesia yang mengaitkan semangat berbagi pada Hari Asyura dengan kebahagiaan yang dirasakan anak-anak yatim melalui santunan dan perhatian dari umat Islam.

Dalam praktiknya, masyarakat mengisi 10 Muharram dengan berbagai kegiatan sosial, seperti pemberian santunan, pembagian makanan, perlengkapan sekolah, hingga pakaian baru bagi anak-anak yatim. Tradisi ini menjadi sarana memperkuat kepedulian sosial dan semangat berbagi.

Namun, secara syariat Islam tidak terdapat dalil sahih yang menetapkan tanggal 10 Muharram sebagai Lebaran Anak Yatim atau hari raya khusus bagi anak yatim. Para ulama menjelaskan bahwa penyebutan tersebut merupakan tradisi budaya yang tumbuh di masyarakat, bukan bagian dari ibadah yang memiliki ketentuan khusus.

Meski demikian, memuliakan dan menyayangi anak yatim merupakan ajaran yang sangat ditekankan dalam Islam. Allah Swt berfirman dalam Al-Qur'an:"Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang." (QS. Ad-Dhuha: 9)

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga, melindungi, dan memperlakukan anak yatim dengan penuh kasih sayang merupakan kewajiban yang berlaku setiap waktu, tidak terbatas pada bulan Muharram.

Selain itu, 10 Muharram atau Hari Asyura memiliki keutamaan tersendiri dalam Islam. Dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim, Nabi Muhammad bersabda: "Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa-dosa setahun yang lalu."

Karena itu, selain dianjurkan berpuasa pada Hari Asyura, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak amal saleh, termasuk bersedekah, membantu fakir miskin, dan menyantuni anak yatim. Nilai utama yang ditekankan bukanlah perayaan "Lebaran Anak Yatim", melainkan semangat berbagi dan kepedulian sosial yang menjadi bagian dari ajaran Islam sepanjang waktu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....