Sabar dan Syukur Jadi Kunci Ketenangan di Tengah Kesibukan

  • 27 Jun 2026 17:26 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Kesibukan pekerjaan dan berbagai tuntutan hidup kerap membuat seseorang mudah merasa lelah, cemas, hingga kehilangan ketenangan batin. Dalam program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Samarinda, Minggu, 21 Juni 2026, Ustaz Baginda Abu Bakar, dari Muhammadiyah Kota Samarinda mengajak masyarakat menjadikan sabar dan syukur sebagai bekal utama dalam menjalani kehidupan.

Menurutnya, setiap manusia memiliki aktivitas dan tanggung jawab yang berbeda-beda. Namun, kesibukan tidak seharusnya membuat seseorang melupakan tujuan hidup sebagai hamba Allah Swt, yakni beribadah dan memperbanyak amal saleh. Di tengah padatnya rutinitas, umat Islam juga dituntut untuk tetap mengingat Allah serta menjaga kualitas ibadah.

Ia menjelaskan bahwa ketenangan hati merupakan nikmat besar yang diharapkan setiap orang. Dengan hati yang tenang, seseorang akan mampu berpikir lebih jernih, beribadah dengan khusyuk, serta menghadapi berbagai persoalan hidup secara lebih bijaksana tanpa mudah putus asa.

"Kunci ketenangan itu adalah sabar dan syukur. Ketika seseorang mampu bersabar atas ujian dan bersyukur atas nikmat yang diterima, maka Allah akan memberikan ketenangan dalam hatinya," ujar Ustaz Baginda Abu Bakar.

Dalam tausiyah tersebut, ia mengutip firman Allah dalam Surah Ar-Ra'd ayat 28 yang menyebutkan bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Menurutnya, kebahagiaan yang hanya bergantung pada urusan dunia tidak akan pernah memberikan ketenangan yang hakiki karena manusia pada dasarnya selalu merasa ingin memiliki lebih banyak.

Ustaz Baginda Abu Bakar juga menguraikan bahwa sabar tidak hanya dimaknai saat menghadapi musibah. Kesabaran, katanya, terbagi menjadi tiga bentuk, yakni sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, sabar menjauhi perbuatan maksiat, serta sabar ketika menghadapi ujian dan kesulitan hidup. Ketiga bentuk kesabaran tersebut menjadi fondasi penting bagi seorang muslim dalam menjaga keteguhan iman.

Selain kesabaran, rasa syukur juga memiliki peran besar dalam membangun ketenangan jiwa. Ia menjelaskan bahwa syukur bukan sekadar mengucapkan pujian kepada Allah, tetapi juga mengakui nikmat dalam hati dan menggunakannya untuk melakukan berbagai bentuk ketaatan. Dengan demikian, seseorang akan lebih mudah menerima keadaan dan tidak selalu merasa kekurangan.

"Orang yang sibuk tetapi bersyukur akan menikmati hidupnya. Sebaliknya, orang yang memiliki banyak nikmat tetapi tidak bersyukur akan terus merasa kurang. Karena itu, ketika mendapat nikmat kita bersyukur, dan ketika mendapat ujian kita bersabar," katanya.

Dengan tausiyah tersebut, masyarakat diingatkan agar tidak hanya mengejar kesuksesan duniawi, tetapi juga menjaga kualitas hubungan dengan Allah Swt. Dengan membiasakan sikap sabar dan syukur dalam kehidupan sehari-hari, diharapkan setiap individu mampu menghadapi berbagai tantangan dengan hati yang lebih tenang, optimistis, dan penuh keberkahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....