Memahami Bahaya Miskin Mentalitas Dibanding Miskin Harta dalam Islam

  • 11 Jun 2026 21:53 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Istilah "kemiskinan dekat dengan kekufuran" seringkali ditafsirkan secara sempit di tengah kehidupan masyarakat, seolah-olah hanya merujuk pada ketiadaan materi. Dalam program Mutiara Pagi di Pro1 RRI Samarinda, Ustaz Arip Saripudin meluruskan paradigma tersebut dengan mengenalkan konsep kemiskinan yang jauh lebih berbahaya, yaitu miskin mentalitas.

Ustaz Arip menegaskan bahwa dari sudut pandang Islam, Allah Swt sebenarnya telah menciptakan setiap manusia dalam kondisi yang sangat kaya dan sempurna melalui kelengkapan fisik dan akal.

Secara biologis dan spiritual, setiap organ tubuh manusia memiliki nilai yang tidak terhingga. Konstruksi berpikir inilah yang harus diubah agar masyarakat tidak selalu mengaitkan rasa minder atau kemiskinan semata-mata dengan kepemilikan harta.

"Artinya miskin itu kan mentalitas ya. Kalau narasi kekinian, miskin sekarang itu adalah miskin mentalitas. Kenapa miskin mentalitas? Karena sesungguhnya manusia itu tidak miskin," ujar Ustaz Arip, dikutip Kamis, 11 Juni 2026.

Sebagai bukti konkret, Ustaz Arip mencontohkan kisah sejarah para sahabat nabi. Banyak di antara mereka yang hidup dalam keterbatasan ekonomi untuk sekadar makan atau membayar mahar pernikahan, namun memiliki kekayaan jiwa, keteguhan iman, serta kecerdasan intelektual yang luar biasa.

Ia memaparkan fenomena kontemporer di mana banyak individu terjebak dalam kemalasan akut akibat rusaknya mentalitas mereka. Banyak orang yang memiliki fisik sehat namun menolak untuk berpikir kreatif atau berupaya mengubah nasib.

"Hari ini mungkin banyak orang yang miskin. Bukan miskin dia tidak punya kaki, tidak punya tangan, tidak punya mata, tidak punya akal, tapi miskin mentalitas. Maka yang perlu kita bangun adalah mentalitas," ucap Ustaz Arip.

Ustaz Arip menyayangkan sikap sebagian masyarakat yang menunjukkan paradoks dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang dinilai sanggup bertahan dan bersabar hidup di bawah garis kemiskinan harta selama berpuluh-puluh tahun, namun mereka justru tidak memiliki kesabaran dan ketekunan yang sama ketika diminta untuk berikhtiar, berdagang, atau menanam. Oleh karena itu, perbaikan mentalitas menjadi kunci utama untuk memutus mata rantai kemiskinan struktural.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....