Amalan setelah 10 Hari Dzulhijjah dan Iduladha: Momentum Kebaikan Belum Berakhir
- 31 Mei 2026 22:07 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Banyak umat Islam menganggap bahwa berakhirnya 10 hari pertama Dzulhijjah, Hari Raya Iduladha, dan hari-hari tasyrik menandai berakhirnya momentum ibadah istimewa. Padahal, pandangan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Melansir Channel Youtube Muhammad Nuzul Dzikri dalam pembahasan "Amalan Setelah 10 Hari Dzulhijjah dan Iduladha", umat Islam masih berada dalam waktu yang sangat mulia meskipun rangkaian ibadah Iduladha telah usai.
Dzulhijjah Masih Menyimpan Keutamaan
Meskipun tanggal 10 Dzulhijjah dan hari-hari tasyrik telah berlalu, kaum muslimin masih berada di bulan Dzulhijjah yang termasuk salah satu bulan haram. Bulan-bulan haram merupakan waktu yang dimuliakan Allah SWT, di mana pahala amal kebaikan dilipatgandakan dan dosa juga memiliki konsekuensi yang lebih besar.
Karena itu, umat Islam tidak seharusnya menganggap hari-hari setelah Iduladha sebagai hari biasa. Justru momentum ini menjadi kesempatan untuk mempertahankan semangat ibadah yang telah dibangun selama 10 hari pertama Dzulhijjah.
Perbanyak Amal Saleh
Salah satu pesan utama dalam kajian tersebut adalah memaksimalkan sisa hari di bulan Dzulhijjah dengan berbagai amal saleh. Beberapa amalan yang dianjurkan antara lain:
- Memperbanyak salat sunnah.
- Memperbanyak sedekah dan infak.
- Membantu sesama yang memerlukan.
- Memperbanyak puasa sunnah.
- Menjaga diri dari perbuatan maksiat.
- Meningkatkan kualitas ibadah harian.
Bagi mereka yang merasa belum maksimal memanfaatkan 10 hari pertama Dzulhijjah, masih tersedia kesempatan untuk memperbaiki dan menambah amal pada sisa bulan yang masih tersisa.
Memperbanyak Zikir Setelah Musim Ibadah
Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa salah satu amalan yang sangat dianjurkan setelah musim ibadah adalah memperbanyak zikir kepada Allah SWT.
Hal ini merujuk pada firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 200 yang memerintahkan orang-orang yang telah menyelesaikan manasik haji agar banyak mengingat Allah. Para ulama menjelaskan bahwa prinsip ini juga dapat diterapkan setelah seseorang menyelesaikan berbagai ibadah besar lainnya.
Zikir yang dianjurkan antara lain:
- Subhanallah
- Alhamdulillah
- Laa ilaaha illallah
- Allahu Akbar
- Subhanallahi wa bihamdihi
- Subhanallahil 'Azim
Selain itu, umat Islam juga diajak untuk mengingat berbagai nikmat yang telah Allah berikan selama momentum Dzulhijjah, mulai dari kesempatan beribadah, kesehatan, rezeki untuk berkurban, hingga kesempatan berbagi kepada sesama.
Dua Tipe Manusia Setelah Musim Ibadah
Kajian tersebut juga mengingatkan adanya dua golongan manusia sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah.
1. Golongan yang Hanya Mengejar Dunia
Kelompok pertama adalah mereka yang seluruh orientasi hidupnya hanya tertuju pada urusan dunia. Doa dan harapan mereka sebatas kesuksesan duniawi tanpa memikirkan kehidupan akhirat.
Orang-orang seperti ini berisiko kehilangan bagian kebaikan di akhirat karena fokus hidupnya hanya pada kenikmatan sementara.
2. Golongan yang Mengejar Dunia dan Akhirat
Kelompok kedua adalah mereka yang senantiasa memanjatkan doa:
"Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban nar."
Artinya: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa api neraka."
Golongan ini tidak hanya berusaha memperoleh kehidupan dunia yang baik, tetapi juga menjadikan akhirat sebagai tujuan utama kehidupannya.
Menjaga Konsistensi Ibadah
Salah satu tantangan terbesar setelah musim ibadah adalah menjaga konsistensi. Semangat yang tinggi saat Dzulhijjah sering kali menurun setelah Idul Adha berakhir.
Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk tetap menjaga kebiasaan baik yang telah dibangun, seperti membaca Al-Qur'an, berpuasa sunnah, bersedekah, salat malam, dan memperbanyak zikir.
Amalan yang dilakukan secara konsisten, meskipun sedikit, lebih dicintai Allah SWT dibandingkan amalan yang besar tetapi hanya sesekali dilakukan.
Jangan Merasa Momentum Telah Selesai
Pesan penting dari kajian ini adalah bahwa momentum kebaikan belum berakhir. Selama masih berada di bulan Dzulhijjah dan bulan-bulan haram berikutnya, umat Islam masih memiliki kesempatan besar untuk meraih pahala yang berlipat.
Oleh karena itu, jangan sampai semangat beribadah yang telah dibangun selama 10 hari pertama Dzulhijjah dan Iduladha menghilang begitu saja. Jadikan momentum tersebut sebagai titik awal untuk terus memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dengan demikian, Iduladha tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter seorang muslim yang lebih bertakwa dan istiqamah dalam kebaikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....